Yudistira (Puntadewa) I




Yudistira alias Darmawangsa adalah ksatria tertua dari para Pandawa dan merupakan salah satu tokoh Protagonis dalam Cerita Mahabarata. Yudistira adalah putera dari Pandu dan Dewi Kunti. Ia adalah raja dari kerajaan Kuru yang pemerintahannya berpusat di Hastinapura. Dalam pewayangan, Yudistira mendapat gelar “Prabu” dan dikenal sebagai Puntadewa. Dan kerajaannya disebut Kerajaan Amarta.


Arti Nama

Dalam bahsa Sansekerta, Yudistira bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Yudistira juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja yang berarti “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.

Yudistira memiliki banyak julukan, dan diantaranya adalah:
•    Ajataśatru, "yang tidak memiliki musuh".
•    Bhārata, "keturunan Maharaja Bharata".
•    Dharmawangsa atau Dharmaputra, "keturunan Dewa Dharma".
•    Kurumukhya, "pemuka bangsa Kuru".
•    Kurunandana, "kesayangan Dinasti Kuru".
•    Kurupati, "raja Dinasti Kuru".
•    Pandawa, "putera Pandu".
•    Partha, "putera Prita atau Kunti".
•    Puntadewa, "derajat keluhurannya setara para dewa".
•    Yudistira, "pandai memerangi nafsu pribadi".
•    Gunatalikrama, "pandai bertutur bahasa".
•    Samiaji, "menghormati orang lain bagai diri sendiri".

Sifat dan Kesaktian

Sifat-sifat yang dimiliki Yudistira sudah tercermin dalam nana –nama julukannya. Namun sifat yang paling menonjol dari yudistira adalah adil,sabar,jujur,taat terhadap ajaran agama,penuh percaya diri,dan berani berspekulasi.

Dalam kisah Mahabarata, Yudistira memiliki kelebihan atau kemampuan dalam memainkan tombak,sedangkan dalam pewayangan Jawa, Yudistira memiliki kesaktian atau kemampuan batin, misalnya ia pernah dikisahkan mampu menjinakkan kewan-hewan buas di hutan Wanamarta hanya dengan meraba kepala mereka.

Yudistira memiliki beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Pusaka Jamus Kalimasada itu berupa kitab, Tunggulnaga berupa payung, seedangkan Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Kalimasada dan Tunggulnaga menjadi pusaka utama kerajaan Amarta,sedangkan Robyong Mustikawarih adalah pusaka pemberian Gandarma, patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila Yudistira sudah sampai pada ambang batas kesabarannya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika ia berubah menjadi raksasa besar yang berkulit putih bersih.

Kelahiran dan Masa Kecil Yudistira

Ada perbedaan kisah tentang kelahiran Yudistira, Dalam kitab Mahabarata bagian pertama atau Adiparwa, mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu, ayah Yudistira yang tanpa sengaja telah membunuh Brahmana bernama Resi Kindama saat ia (Resi Kindama) dan istrinya sedang bersenggama dalam wujud sepasang rusa. Menjelang ajalnya, Resi Kindama mengutuk pandu,bahwa ia akan mati ketika mengawini istrinya. Dengan penuh penyesalan,pandu kemudian meniggalkan tahta Hastinapura untuk pergi bertapa demi mengurangi hawa nafsunya. Kedua istrinya yaitu Kunti dan Madri pun setia mengikuti Pandu.

Pada suatu hari, Pandu mengutarakan ingin memiliki anak, Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya dengan mantra itu. Mantra iru adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama mereka itu diberi nama Yudistira. Dharma adalah dewa keadilan dan kebijaksanaan, dan Yudistira pun mewarisi sifat Dharma sepanjang hidupnya.

Dalam versi pewayangan Jawa, Puntadewa atau Yudistira adalah anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Bathara Dharma hanya sekedar menolong kelahiran Puntadewa dan member restu untuknya. Berkat bantuan Dharma, Puntadewa lahir dari ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa juga melukiskan bahwa Yudistira adalah seorang manusia berdarah putih, yang berarti sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran.

Yudhistira dan para Pandawa yang lain mempelajari ilmu agama,hukum, dan tata Negara kepada Resi Krepa bersama-sama dengan saudara-saudara sepupu mereka yaitu Korawa. Dalam pendidikan ini, Yudistira adalah murid yang paling pandai. Setelah itu, Pamdawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam hal ini,Arjuna adalah murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah, sementara Yudistira lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.

9 komentar:

Budhi Insan mengatakan...

sebagai wong jowo harus melestarikan budaya bangsa..
salut..., sangat bermanfaat...

lanjut baca lagi ah....

FitrohmanAdi mengatakan...

Sip jos

FitrohmanAdi mengatakan...

Sip jos

Unknown mengatakan...

Sip

Unknown mengatakan...

Bangkitlah jiwa2 Nusantara ... Junjung tinggi leluhur lan pepunden2 tanah jawi ..
Rahayu Wilujeng selamet awal dumugi akhir ...

Unknown mengatakan...

Bagus refrensinya lanjutkan

Unknown mengatakan...

Saya Pandawa 5,

Lurapure mengatakan...

Baru paham klu Yudhistira itu puntodewo

Unknown mengatakan...

Och ochie och

Posting Komentar

 
Copyright © 2011. wayang kulit . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Dalang . Published by Dalang