Wisanggeni


Bambang Wisanggeni atau Wisanggeni, dalam pewayangan Jawa merupakan putera Arjuna dengan Batari Dresanala, puteri Bathara Brama. Dalam wiracarita Mahabharata, ia sebenarnya tidak ada dan tidak pernah muncul. Wisanggeni digambarkan sebagai sosok yang pemberani, tegas dalam bersikap , dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Bahkan kesaktiannya melebihi kesaktian anak para Pandawa yang lain seperti Antareja, Gatotkaca maupun Abimanyu. Dalam berbicara Wisanggeni tidak pernah menggunakan basa krama kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang.

Dikisahkan bahwa kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, puteraBatari Durga terhadap Arjuna yang menikahi Batari Dresanala. Dia meminta kepada ibunya supaya memisahkan pernikahan mereka. Batari Durga mengabulkan keinginan anaknya tersebut dan menghadap suaminya Batara Guru, yaitu raja para Dewa untuk memisahkan antara Arjuna dan Batari Dresanala.

Atas desakan istrinya, akhirnya Batara Durga pun memerintahkan Batara Brama menceraikan Arjuna dan Dresanala. Namun, keputusan itu ditentang Batara Narada, penasihat Batara Guru. Narada lebih memilih membela Arjuna dan mengundurkan diri sebagai penasihat Batara Guru.

Brama yang telah kembali dari kahyangan pun menuruti apa yang menadi perintah rajanya. Ia menyuruh Arjuna untuk pulang ke dunia dengan alasan Dresanala akan dijadikan penari di kahyangan utama. Arjuna tanpa sedikitpun curiga, menuruti apa yang menjadi perintah mertuanya, padahal saat itu, Dresanala sedang dalam keadaan mengandung. Setelah Arjuna pergi, Brama menghajar Dresanala, puterinya sendiri untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.

Dresanala tidak bisa menolak perintah ayahandanya, dia pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemput Dresanala setelah melahirkan, sementara Batara Brama membuang bayi yang baru saja dilahirkan puterinya itu ke dalam kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa.

Narada yang memang mengawasi semua kejadian itu, membantu bayi Dresanala keluar dari kawah Candradimuka. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Batara Narada memberinya nama Wisanggeni yang bermakna “racun api” kepada bayi Dresanala itu. Nama itu diberikan Narada, karena bayi itu karena kemarahan  kakeknya, Brama, Dewa Penguasa Api.

Dengan petunjuk Narada, Wisanggeni membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Bathara Guru. Akhirnya Batara Guru dan Batara Brama mengakui kesalahannya, dan Narada bersedia untuk kembali bertugas di kahyangan.

Setelah membuat kekacauan di kahyangan, Wisanggeni kemudian pergi ke kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna agar diakui sebagai anak. Awalnya Arjuna menolak, kemudian terjadi perang tanding antara keduanya. Dalam pertarungan itu, Wisanggeni bisa mengalahkan Arjuna dan para Pandawa yang lain. Ia kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Mendengar apa yang di ceritakan anaknya, Arjuna kemudian pergi ke kerajaan Tunggulmalaya, untuk merebut kembali Dresanala dari Dewasrani.  Pertarungan  sengit antara Arjuna dan Dewasrani pun tidak bisa dielakkan, namun akhirnya Arjuna berhasil memenangkan pertarungan itu, dan berhasil merebut kembali Dresanala.

Dalam cerita yang lain, Wisanggeni memang anak Arjuna dengan Dewi Dresanala. Ia lahir karena Dresanala besikukuh tidak mau menggugurkan kandungannya seperti tujuh bidadari yang lain, yang hamil karena sebagai anugerah Dewa kepada Arjuna yang telah berhasil membebaskan kahyangan dari raksasa Niwatakawaca yang menginginkan Dewi Supraba.

Saat kelahirannya, ia hendak dibunuh olek kakeknya, Bathara Brama atas perintah Batara Guru karena kelahirannya dianggap menyalahi kodrat. Namun Wisanggeni adalah titisan Sang Hyang Wenang, maka ia pun selamat.

Wisanggeni diasuh dan dibesarkan Batara Baruna (Dewa penguasa lautn) dan Hyang Antaboga, yang menjadikan Wisanggeni memiliki kesaktian yang laur biasa. Dalam cerita pewayangan, Wisanggeni dikisahkan bisa terbang seperti Gatotkaca dan ambles bumi seperi Antareja, dan hidup di laut seperti Antasena.

Menjelang meletusnya perang di Kurukhsetra (Baratayuda), Wisanggeni bersama Antasena naik ke kahyangan Alang-alang kumitir untuk meminta restu kepada Sanghyang Wenang. Namun Sanghyang Wenang justru meramalkan, bahwa Pandawa akan kalah apabila Wisanggeni dan Antasena ikut daam pertempuran tersebut. Akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan tidak kembali ke perkemahan Pandawa dan rela menjadi tumbal demmi kemenangan para Pandawa. Mereka berdua mengheningkan cipta, dan kemudian mereka mencapai moksa, musnah bersama jasadnya.
Posted on 00.18 / 0 komentar / Read More

Ki Enthus Soesmono

ENTHUS SOESMONO, (1966 -  ), lahir pada Selasa Legi, tanggal 21 Juni 1966 di Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Ia adalah anak satu-satunya Soemarjadihardja, dalang wayang golek terkenal di Tegal, dengan istri ketiga yang bernama Tarminah.
Sejak berumur 5 tahun ia telah sering mengikuti pentas ayahnya. Oleh karena itu ia sangat akrab dengan dunia pedalangan. Kesukaannya menggambar, menatah dan mewarnai (nyungging) wayang kulit  menghasilkan karya pertama tokoh Indrajid, yang dikerjakan pada saat ia duduk di kelas IV SD. Setelah sekolah di SMP Negeri 1 Tegal (1979-1981) ia mulai menekuni karawitan secara metodik, yang diasuh oleh dua orang guru keseniannya, Mawardi dan Prasetyo. Ketrampilannya menabuh gamelan itu kemudian digunakan untuk melatih rekan-rekan di SMA Negeri 1 Tegal (1982-1985), yang semula tidak pernah mendapat kegiatan ekstrakurikuler karawitan karena tidak mempunyai grup musik yang merupakan kolaborasi antara karawitan dan band.
Kemampuan pedalangannya tidak didapat dari lembaga pendidikan formal seperti SMKI, kursus pedalangan, maupun pelajaran ayahnya, tetapi karena ia sering mengikuti pentas ayahnya dan jeli mengamati sajian pakeliran para dalang lain. Hampir setiap ada pertunjukan wayang di daerahnya selalu disaksikan. Selain itu ia juga berlatih secara serius kepada Sugino Siswotjarito (Banyumas) dan Ki Gunawan Suwati (Slawi), aktif mendengarkan kaset komersial rekaman pakeliran Ki Nartosabdo (Semarang) dan Ki anom suroto (Surakarta), serta sering menyaksikan para dosen ASKI Surakarta  yang sedang memberikan materi kuliah praktik pedalangan di Kampus ASKI, Sasonomulyo Keraton Surakarta (1982-1983)
Keinginan tampil sebagai dalang wayang kulit purwa tidak dapat dicegah ketika kelas dua SMA, di sekolahnya ada acara lustrum kelima SMA Negeri 1 Tegal, yang dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 1983. Pada saat itu ia menyajikan pakeliran ringkas selama 4 jam dengan lakon Gatutkaca Winisudha, yang diiringi kolaborasi karawitan dan band oleh rekan-rekan SMA-nya. Ia menekuni pedalangan sebagai profesi karena terpaksa harus menggantikan peran ayahnya yang telah meninggal dunia pada 10 Februari 1984. saat itu ayahnya banyak meninggalkan job pentas yang belum sempat dilaksanakan, sementara uang muka sudah terlanjur diterima oleh ibunya. Oleh karena itu dengan berbekal keberanian ia menggantikan peran ayahnya sebagai dalang wayang golek. Sejak itu profesi sebagai dalang merupakan penyangga kebutuhan hidup bersama ibunya. Oleh karena itu ia mulai giat berlatih dan mencari kiat-kiat yang belum pernah ditampilkan dalam pakeliran wayang kulit maupun golek.
Pada tahun 1984 ia mengikuti lomba pakeliran padat dalang remaja se-Jawa Tengah di Klaten, sebagai wakil Kabupaten Tegal, dengan menyajikan lakon Brajadenta mBalela. Dalam lomba tersebut ia hanya mampu meraih Juara harapan II. Namun demikian kegagalannya itu tidak membunuh keinginanya menjadi dalang, sebaiknya justru sebagai peringatan untuk lebih giat berlatih. Ia menjadi semakin aktif datang ke kampus ASKI Surakarta serta minta saran, pendapat, bahkan contoh-contoh teknik pakeliran yang baik kepada Ki Manteb Soedarsono.
Mengembara

Setelah lulus SMA Enthus tidak dapat melanjutkan kuliah karena tidak mempunyai biaya. Pada saat itu keluarganya hidup dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan sesuai dengan harapan almarhum ayahnya, ia mendaftarkan diri menjadi polisi. Namun tidak diterima karena ia dianggap tidak bersih lingkungan; pada waktu itu kakak sulungnya, darjoprayitno, baru bebas dari Nusakambangan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja menjadi penyiar selkaligus penata musik dan pemain teater di RSPD Tegal merangkap sebagai penyiar radio Anita Tegal. Namun ternyata hal tersebut belum mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu ia mencari pekerjaan tambahan sebagai buruh. Natah dan nyungging wayang golek di berbagai tempat dalang wayang golek yang memerlukan jasanya.

Untuk memperbaiki kehidupannya, pada setiap malam ia selalu menyempatkan diri untuk belajar Alqur’an dan berdiskusi tentang ilmu agama. Disamping itu ia juga sering meminta bimbingan para kyai di berbagai pondok pesantren.

Mulai Terkenal

Pada tahun 1988 ia mengikuti lagi lomba pakeliran padat se-Jawa Tengah, dengan menyajikan lakon Ciptoning karya Bambang suwarno. Dalam lomba tersebut ia berhasil meraih Juara I sekaligus dalang Favorit. Keberhasilannya meraih juara pada lomba pakeliran padat etrsebut mampu mengangkat namanya ke lingkup yang lebih lus, kemampuannya sebagai dalang wayang kulit menjadi dikenal masyarakat terutama di wilayah pantai utara Jawa Tengah.

Ketika karier pedalangan Ki Manteb Soedarsono mulai dikenal dikalangan yang lebih luas dan menempati posisi sejajar dengan Ki Anom Suroto, Enthus Susmono berupaya dapat meniru berbagai aspek pakelirannya. Maka setiap Manteb Soedarsono pentas selalu dilihat dan diperhatikan. Hampir semua aspek pakeliran khas manteb Soedarsono, baik sabet, gaya bahasa bahwan warna suara, ditirunya semirip mungkin. Khusus sabet yang menggarap aspek bayangan, banyak mengacu pada gaya sabet bambang suwarno (dosen STSI Surakarta) yang dikenal dengan sabet pakeliran padat, sedangkan sabet peperangan mengacu gaya sabet Ki Mulyanto mangkudarsono (Sragen) yang lebih dikenal dengan sabet gaya Sragenan. Namun demikian bagi Enthus Susmono, hanya bambang Suwarno dan Manteb Soedarsono yang dianggap sebagai guru serba paling besar pengaruhnya terhadap nuansa pakelirannya. Bahkan model figur-figur wayangnya pun, terutama wayang-wayang desain baru banyak mengacu dari figur-figur wayang karya bambang Suwarno dan Manteb Soedarsono. Model figur-figur kayon mengacu dari karya dan koleksi bambang Suwarno, sedangkan model wayang setanan dan para raksasa mengacu dari koleksi Manteb Soedarsono.

Perkawinan

Pada tahun 1990 ia kawin dengan gadis pilihannya sendiri, Romiyati, menurunkan dua anak laki-laki: Firman Jendra Satria  dan Firman Haryo Susilo. Mereka menempati rumah peninggalan ayahnya, Soemarjadihardja, di Desa Damyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Namun perkawinannya tersebut hanya berjalan lima tahun. Setelah dua tahun menduda, pada tahun 1997 ia kawin dengan Nurlaela, anak perempuan Sukiman Tamid, guru spiritualnya. Perkawinannya itu tanpa diawali proses pacaran sebagaimana layaknya  orang akan berumah tangga. Ia mempunyai konsep bahwa cinta akan tumbuh seiring waktu berjalan. Perkawinannya yang kedua itu menurunkan seorang anak perempuan bernama firman Nurjannah, bahkan saat ini istrinya sedang mengandung anak kedua. Mereka tinggal serumah dengan Sukiman Tamid, di jalan Prajasumarta II, Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Kariernya sebagai dalang mulai menanjak setelah ia sering tampil dalam pertunjukan wayang kulit dua layar yang diselenggarakan oleh PANTAP dan ditayangkan langsung oleh TVRI Stasiun Semarang dari halaman kantor Sekwilda Jawa Tengah di Semarang (1994-1998)

Desainer wayang

Perhatiannya pada sarana utama pakeliran (wayang0 cukup besar. Ia tidak cukup puas dengan figur-figur wayang yang sudah ada, sehingga berusaha mengembangkan figur wayang tradisi dan atau menciptakan desain baru. Penciptaan tokoh-tokoh  masa kini dalam wayangnya  adalah salah satu upaya untuk memperkenalkan wayang pada generasi muda. Sebab tokoh-tokoh pewayangan seperti Werkudara, Gatutkaca, dan Arjuna mulai terdesak oleh ahdirnya tokoh-tokoh fiktif dari luar budaya Nusantara seperti supermen, Doraemon, Ninja Boy, dan Shinchan. Dengan diciptakan tokoh-tokoh fiktif masa kini dalam bentuk wayang kulit, maka anak-anak akan senang melihat wayang dan setelah itu mereka baru digiring penghayatannya pada karakteristik wayang yang sesungguhnya.

Wayang-wayang baru kreasinyanya tersebut digambar sendri sedangkan pemahatannta dan pewarnaannya dibantu oleh tiga orang penatah dan empat orang penyungging, yang berasal dari daerah Sukoharjo dan Klaten. Sampai saat ini ia telah menyelesaikan hampir 100 buah wayang kreasi serta memiliki sebelas kothak wayang dengan berbagai gaya dan tipe, wayang kulit gaya Kedu, wayang Kulit gaya Cirebon, dan wayang golek Cepak. Wayang-wayang produksinya itu disamping untuk emmenuhi kebutuhan pentas juga sebagai barang dagangan. Diantara karya-karyanya antara lain :

1. Kayon Ganesha 1998
2. Kayon hawa Bayu 1999
3. Kayon Masjid 2000
4. Kayon ganesha Kecil 2000
5. Kayon Liong 2000
6. Kayon Loteng 2001
7. Supermen 1996
8. Gathutkaca Terbang 1996
9. Batman 1996
10. Satria Baja Hitam 1996
11. Sumo 1996
12. Alien 1998
13. Dasamuka 1998
14. Indrajid 1998
15. Patih dan Tumenggung 1998
16. Panakawan Planet 1999
17. Yuyu Rumpung 1999
18. Kreta Jaladara 1999
19. Kreta Jatisura 1999
20. Liong 1999
21. Limbuk dan Suaminya 1999
22. Baris Kampak 1999
23. Ampyak Jaran 2000
24. Osama Bin Laden 2001
25. George Bush 2001
26. Panakawan Teletubbies 2001
27. Togog dan Bilung 2002
28. Pandawa 2002
29. Pendhita Wungkuk 2002
30. Bathara kala 2002
31. Kayon Planet

Tetap mengkritik dan Urakan

Unthus Susmono sebagai dalang sangat sadar bahwa kemampuan pedalangannya diutamakan untuk sumber kehidupannya. Oleh karena itu ia tidak pernah menolak untuk diundang pentas siapapun dan golongan atau partai apa pun. Meskipun demikian ia tetap konsisten pada misinya, yakni sebagai pengontrol sosial, sehingga ia tetap menyampaikan kritik kepada siapapun, baik eksekutif, legislatif , pejabat partai, maupun masyarakat umum. Selain itu gaya urakan tetap dipertahankan sebagai khs pedalangnannya, meskipun hal itu sering mendapat hujatan dari berbagai pihak.
Posted on 11.49 / 0 komentar / Read More

Antareja



Hanantareja atau Antareja adalah putera dari Werkudara dengan Dewi Nagagini, puteri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja memiliki nama lain yaituWasianantareja dan Anantareja. Dalam versi lain seperi wayang klasik versi Surakarta, Antareja adalah nama lain dari Antasena, namun dalam versi Yogyakarta, Antareja adalah kakak lain ibu, Antasena. Antareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada   Sang Maha Pencipta.

Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau Jangkarbumi.Saat kelahiran Antareja,Kahyangan Suralaya saat itu sdang mendapat serangan dari raja Negara Jangkarbumi, yaitu Prabu Nagabaginda yang ingin meminta Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya. Batara Antaboga kemudian membawa cucunya yang masih bayi itu itu untuk dihadapkan dengan Prabu Nagabaginda.

Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga menjadi kebal terhadap semua senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan semakin bertambah dewasa jika terkena senjata. Akhirnya, raja Jangkarbumi bisa dimusnahkan oleh Antareja, dan negeri Jangkarbumi diserahkan kepadanya.

Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Air liurnya bisa membinasakan lawannya dalam waktu sekejap. Kulitnya bersisik Napakawaca yang mampu menahan serangan senjata. Antareja juga memiliki cincin Mustikabumi pemberian Dewi Nagagini, ibunya, yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang yang mati di luar takdir.Ia juga bisa hidup dan berjalan di dalam tanah (amblas bumi).

Dalam lakon Subadra Larung, cincin itu diperlihatkan kepada Ayahnya Arya Werkudara,sehingga bima mengakuinya sebagai anak.Saat itu, Antareja terkejut melihat perahu mayat wanita yang tak lain adalah Wara Subadra istri Janaka (Arjuna). Antareja kemudian menghidupkan kembali Subadra yang dibunuh Burisrawa secara tidak sengaja dengan cincin Mustikabumi.

Gatotkaca yang mendapat tugas mengawasi jenazah bibinya, menjadi curiga dan menuduh Antareja yang membunuh Wara Subadra.Perkelahian antara keduanya tidak bisa dihindarkan, tetapi segera dicegah Sri Kresna dan memberitahu keduanya bahwa mereka masih bersaudara.Sementara Subadra sendiri juga mengaku bahwa yang membunuh dirinya adalah satriya MadyapuraRaden Burusrawa, putera Prabu Salya raja Mandaraka.

Antareja menikah dengan Dewi Ganggi, puteri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang putera yang diberi nama Arya Danurwenda yang diangkat menjadi patih luar Negara YawastinaPrabu Parikesit.

Akhir riwayatnya, Antareja menjadi tumbal kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayudha. Kurawa tidak rela mengorbankan salah satu keluarganya, melainkan membunuh Ijrada, Traka dan Sarka, sedangkan di pihak Pandawa, Antareja dan Wisanggenirela mengorbankan diri untuk kemenangan Pandawa.Antareja menjilat telapak kakinya sendiri dan mendapat anugerah menempati sorgaloka tingkat Sembilan milik Sri Kresna.
Posted on 11.06 / 0 komentar / Read More

Ki Anom Suroto

ANOM SUROTO, H,  (1948 -  ), dalang Wayang Kulit Purwa, mulai terkenal sebagai dalang sejak sekitar tahun 1975-an. Ia lahir di Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu Legi 11 Agustus 1948. Ilmu pedalangan dipelajarinya sejak umur 12 tahun dari ayahnya sendiri, Ki Sadiyun Harjadarsana. Selain itu secara langsung dan tak langsung ia banyak belajar dari Ki Nartasabdo dan beberapa dalang senior lainnya.
Dalang laris itu juga pernah belajar di Kursus Pedalangan yang diselenggarakan Himpunan Budaya Surakarta (HBS), belajar secara tidak langsung dari Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, bahkan pernah juga belajar di Habiranda, Yogyakarta. Saat belajar di Habiranda ia menggunakan nama samaran Margono.

Pada tahun 1968, Anom Suroto sudah tampil di RRI (Radio Republik Indonesia), setelah melalui seleksi ketat. Tahun 1978 ia diangkat sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon dengan nama Mas Ngabehi Lebdocarito. Tahun 1995 ia memperolah Satya Lencana Kebudayaan RI dari Pemerintah RI.

Selain aktif mendalang, ia juga giat membina pedalangan dengan membimbing dalang-dalang yang lebih muda, baik dari daerahnya maupun dari daerah lain. Secara berkala, ia mengadakan semacam forum kritik pedalangan dalam bentuk  sarasehan dan pentas pedalangan di rumahnya Jl. Notodiningratan 100, Surakarta. Acara itu diadakan setiap hari Rabu Legi, sesuai dengan hari kelahirannya, sehingga akhirnya dinamakan Rebo Legen. Acara Rebo Legen selain ajang silaturahmi para seniman pedalangan, acara itu juga digunakan secara positif oleh seniman dalang untuk saling bertukar pengalaman. Acara itu kini tetap berlanjut di kediamannya di Kebon Seni Timasan, Pajang, Sukoharjo. Di Kebon seni itu berdiri megah bangunan Joglo yang begitu megah dalam area kebon seluas 5000 M2.

Hingga akhir abad ke-20 ini, Anom Suroto adalah satu-satunya yang pernah mendalang di lima benua, antara lain di Amerika Serikat pada tahun 1991, dalam rangka pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di AS). Ia pernah juga mendalang di Jepang, Spanyol, Jerman Barat (waktu itu), Australia, dan banyak negara lainnya. Khusus untuk menambah wasasan pedalangan me-ngenai dewa-dewa, Dr. Soedjarwo, Ketua Umum Sena Wangi, pernah mengirim Ki Anom Suroto ke India, Nepal, Thailand, Mesir, dan Yunani.

Di sela kesibukannya mendalang Anom Suroto juga menciptakan beberapa gending Jawa, di antaranya Mas Sopir, Berseri, Satria Bhayangkara, ABRI Rakyat Trus Manunggal, Nyengkuyung pembangunan, Nandur ngunduh, Salisir dll. Dalang yang rata-rata pentas 10 kali tiap bulan ini, juga menciptakan sanggit lakon sendiri antara lain Semar mbangun Kahyangan, Anoman Maneges, Wahyu Tejamaya, Wahyu Kembar dll.

Bagi Anom Suroto tiada kebahagiaan yang paling tinggi kecuali bisa membuat membuat senang penontonnya, menghibur rakyat banyak dan bisa melestarikan kesenian klasik.

Anom Suroto pernah mencoba merintis Koperasi Dalang ‘Amarta’ yang bergerak di bidang simpan pinjam dan penjualan alat perlengkapan pergelaran wayang. Selain itu, dalang yang telah menunaikan ibadah haji ini, menjadi pemrakarsa pendirian Yayasan Sesaji Dalang, yang salah satu tujuannya adalah membantu para seniman, khususnya yang berkaitan dengan pedalangan.

Dalam organisasi pedalangan, Anom Suroto menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat PEPADI, untuk periode 1996 - 2001.

Pada tahun 1993, dalam Angket Wayang yang diselenggarakan dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI-1993, Anom Suroto terpilih sebagai dalang kesayangan.

Anom Suroto yang pernah mendapat anugerah nama Lebdocarito dari Keraton Surakarta, pada  1997 diangkat sebagai Bupati Sepuh dengan nama baru Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.

Karena punya banyak penggemar, banyak pula pergelaran Anom Suroto yang direkam dan kemudian  dijual dalam bentuk kaset
Posted on 11.05 / 0 komentar / Read More

Antasena



Anantasena atau Antasena dalam cerita pewayangan adalah putera bungsu dari Bimasena (Werkudara)  dengan Dewi Urangayu puteri Bathara Mintuna.Antasena memiliki saudara lain ibu yaitu Antareja dan Gatotkaca. Dalam wiracarita Mahabharata, tokoh Antasena sebenarnya tidak ada. Antasena dalam pewayangan Jawa digambarkan sebagai sosok yang polos, lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara kepada siapapun, ia tidak pernah menggunakan basa krama. Ia merupakan anak Bima yang paling sakti yang mampu terbang seperti Gatotkaca, amblas ke bumi dan menyelam di dalam air, serta kulitnya dilindungi sisik udang yang membuat dia kebal terhadap semua jenis senjata.

Bima meninggalkan Urangayu saat Antasena masih di dalam kandungan untuk kembali ke negeri Amarta. Ia diasuh dan dibesarkan oleh ibu dan kakeknya di Kisik Narmada. Bersamaan dengan lahirnya Antasena, kahyangan Suralaya sedang diserang angkatan dari Girikadasar di bawah kekuasaan raja Kalalodra. Antasena yang masih kecil berhasil membinasakan Raja raksasa itu. Dengan keberhasilan Antasena, kakeknya Resi Mintuna diangkat menjadi dewa penguasa ikan, bergelar Batara Baruna.

Saat Resi Bisma mengadakan perlombaan untuk membuat sungai menuju bengawan Gangga. Cucunya, Korawa dan Pandawa saling bersaing, Werkudara dibantu pasukan dari Kisik Narmada yang dipimpin Antasena dan berhasil membuat sungai yang oleh Resi Bisma diberi nama Sungai Serayu. Sedangkan Kurawa hanya berhasil membuat sungai yang tembus ke sungai Serayu, dan sungai itu diberi nama Kewaling atau terbalik. Dalam pedalangan, Kelawing juga disebut Kali Cingcinggoling.

Tentu saja, Korawa sakit hati karena mengalami kekalahan. Keinginan untuk membinasakan Pandawa pun muncul kembali. Korawa kemudian bersekutu dengan raja Girisamodra, Prabu Gangga Trimuka. Atas bujuk Sengkuni , Gangga Trimuka akan menguasai Tribuwana apanila ia bisa membunuh Pandawa. Gangga Trimuka kemudian menangkap Pandawa dan dipenjarakan di dalam gedung kaca bernama Kongedah, hingga mereka mati.

Mengetahui pandawa dipenjara, Antasena langsung melabrak raja Girisamodra dan membinasakannya dengan belai upas. Para Pandawa kemudian dihidupkan kembali oleh Antasena dengan Cupu Madusena, pusaka pemberian kakeknya. Girisamodra kemudian diberikan kepada Antasena. Antasena kemudian menikah dengan sepupunya, puteri Arjuna yang bernama Janakawati.

Menjelang perang Bharatayuddha, Antasena bersama sepupunya Wisanggeni menghadap Sanghyang Wenang untuk meminta restu ke kahyangan Alang-alang Kumitir. Namun, Sanghyang Wenang justru mengatakan bahwa kemenangan akan berada di pihak Pandawa, jika mereka tidak turut serta dalam pertempuran di Kurukhsetra. Akhirnya Antasena dan Wisanggeni memutuskan untuk tidak kembali ke dunia, keduanya mengheningkan cipta, dan  akhirnya moksa besama Jasadnya di kahyangan Sanghyang Wenang.
Posted on 11.00 / 0 komentar / Read More

Ki Sujiwo Tejo


Agus Hadi Sudjiwo (Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti “Ketawa Bareng Tejo”.
Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.
Karier
Saat kuliah di jurusan Matematika dan jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung, hasrat berkesenian Sujiwo mulai berkembang. Saat itu Sujiwo Tejo menjadi penyiar radio kampus, main teater, dan mendirikan Ludruk ITB bersama budayawan Nirwan Dewanto. Sujiwo Tejo juga menjabat Kepala Bidang Pedalangan pada Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1981-1983 dan pernah membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi tahun 1983.
Sujiwo Tejo yang mendalang wayang kulit sejak anak-anak, mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul Semar Mesem (1994). Ia juga menyelesaikan 13 episode wayang kulit Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia tahun 1996, disusul wayang acappella berjudul Shinta Obong dan lakon Bisma Gugur. Pergumulannya dengan komunitas Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), memberinya peluang untuk mengembangkan dirinya secara total di bidang kesenian. Selain mengajar teater di EKI sejak 1997, Sujiwo Tejo juga memberikan workshop teater di berbagai daerah di Indonesia sejak 1998. Berlanjut pada tahun 1999, Tejo memprakarsai berdirinya Jaringan Dalang. Tujuannya adalah untuk memberi nafas baru bagi tumbuhnya nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Bahkan pada tahun 2004, Sujiwo Tejo mendalang keliling Yunani.
Pada tahun 1999, Sujiwo Tejo mulai dikenal masyarakat sebagai penyanyi (selain sebagai dalang) berkat lagu-lagunya dalam album Pada Suatu Ketika. Video klip “Pada Suatu Ketika” meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000. Kemudian diikuti labum berikutnya yaitu Pada Sebuah Ranjang (2001), Syair Dunia Maya (2005), dan Yaiyo (2007).
Selain ndalang, Sujiwo Tejo juga aktif dalam menggelar atau turut serta dalam pertunjukan teater. Antara lain, membuat pertunjukan Laki-laki kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata di Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999. Sujiwo Tejo juga menjadi Sang Dalang dalam pementasan EKI Dancer Company yang bertajuk Lovers and Liars di Balai Sarbini, Sabtu dan Minggu, 27-28 Februari 2004.
Posted on 10.44 / 0 komentar / Read More
 
Copyright © 2011. wayang kulit . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Dalang . Published by Dalang