Widura



Widura atau Yamawidura  adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah putera ketiga Resi Byasa (Abyasa), dan itu berarti ia adalah adik dari Pandu dan Dretarastra.Widura adalah seorang yang bijaksana dan ahli dalam bidang hukum.
Dalam kitab Adiparwa atau Mahabharata bagian pertama, diceritakan bahwa Satyawati istri Prabu Santanu  meminta agar Abiyasa mengadakan yajna (upacara) untuk kedua janda Wicitrawirya agar memperoleh keturunan. Karena sewaktu Citranggada dan Wicitrawirya meninggal, mereka belum memberikan keturunan sebagai penerus takhta kerajaan, sementara anak kandung Prabu Santanu, Bisma sudah terikat dengan sumpahnya bahwa ia tidak akan menikah seumur hidupnya dan juga tidak akan mewarisi takhta Hastinapura. Oleh karena itu, Satyawati meminta Byasa, putera kandungnya dengan Palasara agar melaksanakan upacara tersebut.
Ambika yang mendapat giliran pertama, saat menghadap Byasa ia takut kemudian menutup wajahnya, maka anak yang dilahirkannya pun buta, yaitu Dretarastra. Kemudian Ambalika, saat menghadap Byasa, ia tidak menutup wajahnya, tetapi karena takut, wajahnya menjadi pucat, dan anak yang dilahirkannya pun wajahnya pucat yaitu Pandu.
Satyawati belum puas karena kedua putera yang dilahirkan menantunya mengalami cacat fisik. Maka ia meminta kepada Byasa, untuk melakukan satu kali lagi. Namun Ambika dan Ambalika tidak mau menghadapa Byasa lagi, maka mereka meminta seorang pelayan untuk menghadap Byasa. Sang pelayan saat menghadap Byasa tidak takut dan tenang, maka Byasa berkata bahwa anak yang kelak akan dilahirkannya akan menjadi anak yang berperilaku mulia, dan merupakan penjelmaan Dewa Dharma. Anak itu adalah Widura, atau Yamawidura.
Widura saat masih muda belajar di bawah bimbingan Bisma bersama kedua saudaranya, Pandu dan Dretarastra. Widura adalah sosok yang bijaksana bahkan paling bijaksana diantara kedua saudaranya. Ia belajar menjadi menteri raja, Pandu diangkat menjadi panglima perang, sedangkan Dretarastra dipilih sebagai putera mahkota. Karena Dretarastra buta, Pandu menggantikannya dan memerintah atas nama Dretarastra, sedangkan Widura menjadi penasihat raja menemani Dretarastra.
Widura adalah orang yang paling tanggap ketika Korawa memiliki niat untuk menyingkirkan Pandawa. Maka saat para Pandawa dan Kunthi diundang Sengkuni dan para Korawa untuk menghadiri pesta di puncak pegunungan Waranata, Widura memberi peringatan dan nasihat kepada Yudhistira, Bima dan para Pandawa yang lain, agar selalu waspada. Yamawidura juga memerintahkan Kanana, agar membuat terowongan rahasia yang sewaktu-waktu bisa menjadi jalan penyelamatan saat terjadi sesuatu di Bale Sigala-gala.
Widura juga berusaha mendamaikan pertikaian antara Pandawa dan Korawa mengenai masalah Hastinapura. Ia menghubungi para sesepuh Pandawa dan Korawa, diantaranya adalah Resi Bisma, Resi Drona, Prabu Dretarastra, Sri KresnaYudhistira dan Doryudana untuk mendiskusikan masalah tersebut. Ketika perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Widura tidak turut turun ke medan laga, ia tetap tinggal di Hastinapura, meskipun ia tidak memihak para Korawa.
Dalam pewayangan Jawa, Widura lebih dikenal dengan Yamawidura, ia berkeduduan sebagai adipati Pagombakan, yaitu negeri kecil bawahan Hastinapura. Ia adalah putera ketiga Abiyasa dengan seorang dayang bernama Datri. 
Namun dalam pewayangan Jawa, diceritakan saat Datri menyamar menjadi Ambalika untuk memperoleh keturunan, Datri juga ketakutan saat bertemu dengan Abyasa. Ia mencoba lari keluar kamar, akibatnya , Datri melahirkan bayi berkaki pincang yang diberi nama Widura.
Widura menikah dengan Padmarini, puteri Dipacandra dan Pagombakan, bawahan negeri Hastina. Widura kemudian menggantikan kedudukan Dipacandra, setelah mertuanya meninggal. Ia memiliki patih bernama Jayasemedi. Widura memiliki putera bernama Sanjaya, yang menjadi juru penuntun Dretarastra. Namun dalam versi Mahabharata, antara Widura dan Sanjaya sama sekali tidak ada hubungan darah.
Setelah sepeninggal Pandu, Pandawa tidak menetap di Hastina, melainkan tinggal bersama Widura di Pagombakan. Widura mendidik kelima keponakannya agar menjadi manusia-manusia utama.
Saat Pandawa dijebak oleh para Korawa dalam Balai Sigala-gala, Widura sebelumnya sudah membangun terowongan rahasia di bawah balai tersebut. Melalui terowongan itulah para Pandawa dan Kunthi, berhasil meloloskan diri dari maut.
Widura dikisahkan berumur panjang, sementara puternya Sanjaya, gugur dalam perang Baratayuddha saat melawan Karna. Widura meninggal saat bertapa di hutan setelah para Pandawa berhasil mendapatkan kembali kekuasaan atas negeri Hastinapura.
Posted on 17.36 / 0 komentar / Read More

Aswatama



Aswatama atau Ashwatthaman adalah salah satu tokoh yang muncul dalam wiracaritaMahabharata atau Bharatayuddha. Ia adalah putera Begawan Drona, guru para Pandawa dan Korawa dengan Dewi Krepi. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Aswatama belajar ilmu perang bersama para pangeran Kuru di bawah bimbingan ayahnya sendiri yaitu Resi Drona. Ia memiliki keterampilan dalam ilmu memanah, dan kemampuannya hampir sama dengan Arjuna, murid kesayangan ayahnya.
Saat perang akbar antara Pandawa dan Korawa meletus, Aswatama berada di pihak Korawa. Untuk membangkitkan semangat pasukan Korawa setelah dipukul mundur pasukan Pandawa, Aswatama memanggil senjata Narayanastra yang dahsyat, mengetahui hal itu, Kresna membuat sebuah taktik dan senjata itu berhasil diatasi. Ia juga memanggil senjata Agneyastra untuk menyerang Arjuna, namun senjata itu berhasil dimentahkan oleh senjata Brahmastha.
Dengan taktik Kresna juga, Begawan Drona, ayah Aswatama meninggal di tangan Drestadyumna putera Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Kresna meminta Bima untuk membunuh gajah bernama Aswatama. Sebelum perang dimulai Begawan Drona pernah berkata bahwa ia tidak akan mengangkat senjata jika menerima kabar buruk dari orang yang diakui kejujurannya. Bima melakukan perintah Kresna, ia membunuh gajah bernama Aswatama, setelah itu ia teriak sekeras-kerasnya, bahwa Aswatamatelah tewas. Kabar itu terdengar oleh Begawan Drona, maka ia pun bertanya kepada Yudhistira yang terkenal akan kejujurannya, Yudhistira kemudian menjawab bahwa benar Aswatama telah tewas, tetapi ia tidak bisa memastikan apakah manusia atau bukan.Karena kabar itulah, Begawan Drona kehilangan semangat hidupnya dan ia gugur di tangan Drestadyumna.
Mengetahui bahwa ayahnya tewas di tangan Drestadyumna, Aswatama marah dan ingin membalas dendam. Dengan izinDoryudana, Aswatama berhasil membalaskan dendamnya, ia membunuh Drestadyumna secara brutal setelah perang berakhir. Ia juga membunuh putera  kelima Pandawa dengan Dropadi yang dikenal dengan Pancawala setelah perang berakhir.
Pandawa marah dengan apa yang dilakukan oleh Aswatama, Arjuna memburu dan terjadilah pertarungan diantara keduanya. Dalam pertarungan itu, Aswatama memanggil senjata “Brahmasta” begitu juga dengan Arjuna, takut akan kehancuran dunia, Begawan Byasa (Abiyasa) meminta keduanya agar segera menarik senjatanya kembali.
Arjuna berhasil melakukannya, tetapi Aswatama kurang pandai menguasai senjata itu sehingga tidak bisa menariknya. Ia kemudian diberi pilihan agar senjata itu menyerang target lain untuk dihancurkan. Masih dengan penuh rasa dendamnya, Aswatama mengarahkan senjata itu kearah rahim  Utara, menantu Arjuna, istri Abimanyu.
Senjata itu membakar janin Utara, Namun Kresna berhasil menghidupkannya kembali. Aswatama kemudian dikutuk oleh kresna agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 6000 tahun sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang.
Dalam versi lain diceritakan bahwa Aswatama dikutuk Kresna agar hidup sampai akhir zaman Kaliyuga. Legenda juga mengatakan bahwa Aswatama mengembara ke daerah yang sekarang dikenal senagai semenanjung Arab. Dalam legenda lain mengatakan, bahwa Aswatama masih mengembara di dunia dalam wujud badai dan angin topan.
Sebuah benteng kuno dekat Burhanpur India yang dikenal dengan Asirgarh memiliki kuil suci Siwa di puncaknya. Konon setiap subuh Aswatama mengunjungi kuil tersebut untuk mempersembahkan bunga mawar merah. Orang yang bisa menyaksikan peristiwa itu konon akan menjadi buta atau kehilangan suaranya. Di Gujarat, India, ada Taman Nasional Hutan Gir yang dipercaya sebagai tempat Aswatama mengembara dan konon masih hidup di sana sebagai seorang Chiranjiwin.
Dalam pewayangan jawa, Aswatama dikenal sebagai putera Begawan Drona dengan Dewi Krepi, puteri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Aswatama berambut dan bertelapak kaki kuda, hal ini dikarenakan, ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi Kuda Sembrani dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona ), menyeberangi lautan.
Aswatama berasal dari padepokan Sokalima, dan dalam perang Bharatayuddha ia memihak Korawa. Ia bersama para pangeran kuru mendapat ajaran ilmu perang dari ayahnya, Resi Drona. Ia mendapat pusaka yang sangat sakti dari ayahnya bernama Cundamanik.
Pada perang Bharatayuddha, Drona,ayah Aswatama gugur karena siasat para Pandawa. Mereka sengaja membunuh gajah yang bernama Aswatama, agar Begawan Drona menjadi kehilangan semangat hidup (Resi Drona mengira yang tewas adalah Aswatama puteranya). Untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Setelah perang Bharatayuddha berakhir, Aswatama menyelundup ke dalam istana Hastinapura. Ia berhasil membunuh Drestadyumna (Pembunuh ayahnya), Pancalawa (disini, Pancawala adalah putera Yudhistira dengan Dropadi), Banowati, dan Srikandi. Aswatama akhirnya ia mati di tangan Bima, badannya hancur dipukulGada Rujakpala.
Posted on 17.33 / 0 komentar / Read More

Bale Sigala-Gala



Bimasena menghadap sanga Raja Hastinapura, Prabu Dretarastra. Namun, ia tidak menceritakan apa yang menimpa dirinya di kedung Sungai Gangga wilayah Hutam Pramanakoti. Ia teringat akan nasihat Naga Aryaka, bahwa ia tidak boleh membalas kejahatan saudara tuanya (Korawa) dengan kejahatan pula, karena hal itu  tidak menyelesaikan masalah. Naga Aryaka menambahkan agar menyerahkan semua masalah kepada Sang Hyang Tunggal penguasa alam semesta. Bima pun juga telah berjanji untuk mentaati nasihat Naga Aryaka, dewa penguasa sungai yang menolongnya dari kejahatan para Korawa, bahkan ia juga diberikan anugerah Torta Rasakundha dari Naga Aryaka.
Namun Prabu Dretarastra tahu bahwa ada sesuatu kejadian buruk yang menimpa keponakannya itu. Maka pada kesempatan lain, Dretarastra memanggil beberapa orang terdekat tanpa kehadiran Bimasena dan saudara-saudaranya. Prabu Dretarastra melampiaskan kemarahannya kepada Sengkuni.
Dretaeastra : “Sengkuni, Sengkuni, sampai kapankah engkau akan mempermainkan aku? Berapa kali engkau telah  memberikan kabar bohong kepadaku, yang adalah raja Hastinpura?”
Memang dasar  Sengkuni, ia pun masih juga mengelak.
Sengkuni : “ Ampun Sang Prabu, waktu itu memang benar ,saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa seusai pesta, mungkin karena terlalu banyak minum tuak, Bimasena menjadi sempoyongan dan masuk  ke kedung sungai Gangga. Para Prajurit berjaga-jaga di pinggir sungai, dan siap menolong  jika sewaktu-waktu Bimasena muncul dari kedung tersebut. Namun hingga hari ketiga, anak kedua dari Pandudewanata tersebut tidak muncul juga. Jadi, salahkah jika hamba menyimpulkan bahwa Bimasena telah mati? Adakah seseorang yang mampu bertahan di dalam air selama tiga hari?”
Dretarastra :” Sengkuni! Nyatanya engkau salah! Bimasena masih hidup!!”
Bentakan sang raja Hastinapura itu membuat semua orang yang hadir di pisowanan tertunduk diam dan tidak ada satu orang pun yang berani mengeluarkan kata-kata. Drestrastra sendiri nampaknya sudah tidak ingin mengeluarkan kata-kata lagi, Ia pun meminta Gendari, istrinya untuk dituntun meninggalkan pisowanan tersebut.
Sengkuni menjadi semakin terbakar hatinya dengan nasib baik yang diterima Bimasena. Bahkan ia memiliki rencana baru untuk menyingkirkan Bimasen dan saudara-saudaranya beserta ibunya, Kunti.
Untuk kali ini Sengkuni tidak mau gagal lagi, ia memerintahkan Purucona, arsitek terhandal di Hastinapura untuk membuat sebuah bangunan peristirahatan yang indah dan nyaman di atas pegungungan di luar kota raja Hastinapura.
Bangunan itu dirancang khusus , tiang-tiang bangunan diisi dengan sendawa dan gandaruken, yaitu bahan yang sejenis dengan mesiu dan minyak yag mudah terbakar.
Sementara Kunti dan anak-anaknya memang bukan tipe orang yang pendendam., dihati mereka telah diajarkan bagaimana senantiasa menumbuhkan sikap nan tulus untuk mengasihi kepad siapapun tak terkecuali. Oleh karena itu, merekapun tidak memiliki hati yang ditumbuhi rasa dendam yang bisa meracuni hidup mereka.
Maka dengan mudah pula Sengkuni dan Doryudana membujuk kembali para Pandawa dan Kunti , mengajak mereka agar bisa merasakan nyamannya rumah peristirahatan yang bernama Bale Sigala-gala di puncak pegunungan.
Dua pekan lagi saat purnama sidhi, Kunthi dan kelima anaknya berjanji akan memenuhi undangan Sengkuni dan para Korawa dalam acara andrawina di Bale Sigala-gala. Sang Paman, Yamawidura yang mempunyai kelebihan dalam hal membaca kejadian yang belum terjadi, merasakan firasat buruk yang harus dihindari oleh kelima ponakan dan kakak iparnya itu. Ia kemudian memanggil Kanana abdinya, Kanana adalah orang yang ahli dalam mebuat terowongan. Kanana diperintahkan untuk menyelediki Pasanggrahan Bale Sigala-gala dan secepatnya membuat terowongan untuk jalan penyelamaran jika terjadi sesuatu atas pesanggrahan tersebut.
Kanana segera melaksanakan perintah rahasia Yamawidura dengan sebaik-baiknya, serapi-rapinya dan secepat-cepatnya. Ia tahu bahwa Yamawidura adalah titisan bathara Dharma, dewa keadilan dan kebenaran. Ia memiliki kelebihan dan tak ada tandingannya di negara Hastinapura dalam hal membaca kejadian yang akan terjadi. Prabu Dretarastra sendiri mengakui kelebihan adijnya yang sangat disayangi itu. Maka Kanana meyakini akan terjadi huru-hara besar dan terowongan yang ia buat atas perintah Yamawidura benar-benar akan menjadi sarana untuk penyelamatan. Kurang dari dua pekan, terowongan dengan panjang lebih dari 400 langkah selesai dibuat.
Malam menjelang pesta di Balai Sigala-gala , Yamawidura mengidungkan mantra syair yang isinya mengingatkan agar setiap orang selalu waspada dan berjaga-jaga,  tujuannya tidak lain juga untuk mengingatkan Kunthi dan anak-anaknya agar jangan menanggalkan kewaspadaan dan selalu berdoa memohon  agar terhindar dari segala mara bahaya.
Di Pagi hari yang cerah, Kunthi dan anak-anaknya berpamitan kepada Yamawidura untuk pergi ke gunung Waranawata untuk memenuhi undangan para Korawa di Bale Sigala-gala. Bagi Kunthi dan para Pandawa tidak ada sedikitpun rasa curiga di benak mereka. Namun tidak dengan Yamawidura, dia khawatir akan keselamatan Kunthi dan kelima keponakannya. Ia pun kemudian berpesan.
“Kakang Mbok Kunti dan anak-anakku Pandawa, kemeriahan pesta dapat dengan mudah membuat orang lupa. Oleh karenanya jangan tinggalkan kewaspadaan.”
“ Bimasena engkau orang yang paling perkasa diantara Ibu dan saudara-saudaramu. Padamulah aku titipkan keselamatan ibu dan saudara-saudaramu.”
Setelah berpamitan dan mendapat pesan dari Yamawidura, mereka pun berangkat meninggalkan Panggombakan menuju gunung Waranawata.
Sementara di Bale Sigala-gala, halaman dan ruangan pesta sudah dihiasi dengan bunga-bunga sehingga nampak indah mempesona. Sebagian warga Korawa telah hadir. Sang arsitek Purocana melihat karyanya dengan bangga dan namanya semakin dikenal karena karya istimewanya yang sangat menganggumkan itu.
Namun dalam hati Purucona menjadi tidak tega, jika membayangkan bahwa nanti malam Bale yang ia bangun dengan megahnya akan berubah menjadi kobaran api dan akan membakar orang-orang yang tak berdosa.
Tamu undangan telah memenuhi ruangan pesta, namun Patih Sengkuni, Doryudana, Dursasana dan para Korawa belum lega. Tamu istimewa yang mereka tunggu-tunggu belum datang, siapa lagi kalau bukan Kunti dan anak-anaknya. Karena pesta yang dibuat ini memang sengaja diadakan untuk mereka.
Sebelum memasuki lokasi pesta, Kunthi dan par Pandawa ditemui oleh Kanana, utusan Yamawidura. Ada pesan khusus yang harus ia sampaikan kepada Bimasena, tetapi sebelum Ia sempat berterus terang apa yang akan terjadi dan apa yang harus dilakukan Bimasena, ia terburu-buru pergi karena takut ketahuan Sengkuni dan warga Korawa.
Kunti, Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Sadewa dan Nakula pun akhirnya tiba di lokasi pesta. Patih Sengkuni dan Doryudana tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Keramahtamahan Sengkuni dan Doryudana dalam menyambut Kunti dan Pandawa memang berlebihan hingga membuat risi para tamu yang hadir. Namun tidak untuk Kunthi dan para puteranya, mereka menganggap itu adalah wujud penghormatan khusus sesame saudara.
Suasana pesta memang sungguh meriah, para petugas acara pesta menjalankan tugasnya dengan baik dan rapi. Aneka hidangan dikeluarkan tak pernah henti membuat semua yang hadir terhanyut dalam suasana yang memabukkan. Para Korawa kecuali Sengkuni, Doryudana dan Dursasana sudah tidak bisa mengendalikan diri mereka sendiri. Karena melihat suasana pesta yang semakin tidak terkendali, akhirnya pesta terpaksa dihentikan.
Keadaan menjadi hening, dan pesta yang semula dirancang unuk membawa Kunti dan para Pandawa terhanyut terlebih dulu dalam suasana pesta, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Para Korawa justru lebih dulu tidak berdaya karena terlalu hanyut dalam kemeriahan pesta.
Sengkuni menjadi bingung, bagaimana bisa melaksanakan rencananya, jika para Korawa justru mabuk dan sulit membawa mereka keluar dari Bale Sigala-gala.
Sementara itu Kunti dan Nakula menuju ke ruang belakang, mereka melihat enam pertapa tertidur nyenyak sekali di lantai, nampaknya mereka sangat kelelahan. Dewi Kunti menyapa mereka dengan lembut “ Selamat malam sang pertapa, selamat beristirahat dan sampai jumpa di esok hari.”
Malam  merambat menuju pagi, dari kejauhan terdengar suara kentongan yang berbunyi dua kali, dan itu menandakan bahwa waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Sampai di ruang belakang Kunti melihat Yudhistira, Bimasena, Arjuna dan Sadewa masih terjaga. Dan yang mengejutkan, di antara mereka ada seorang abdi dari Panggombakan, orang terdekat Yamawidura yaitu Kanana, sang ahli pembuat terowongan.
Kanana kemudian memohon agar diberi kesempatan untuk menjelaskan suatu hal rahasia dengan tanpa didengar  orang lain, selain Dewi Kunthi dan anak-anaknya. Pintu ruangan ditutup perlahan, mereka memusatkan perhatian dan pandangan kepada Kanana.
Kanana kemudian memulai mengungkapkan apa hala rahasia itu, “ Mohon Maaf sebelumnya, Ibu Kunthi dan pra Putra, beberapa pekan lalu, saya diperintahkan untuk membuat terowongan rahasia sebagai jalan penyelamatan jika sewaktu-waktu terjadi bencana di pesta Bale Sigala-gala. Terutama kepada Raden Bimasena, Bapa Yamawidura mengingatkan agar selalu waspada dan bertindak cepat untuk menyelamatkan Ibu Kunthi  beserta saudara-saudaranya, jika sewaktu-waktu bencana benar-benar terjadi, dan inilah pintu terowongannya itu.”
Kunthi dan para Pandawa ternganga mendengar penjelasan Kanana, mereka tidak menyangka bahwa lantai yang beralas permadani itu ternyata mudah dibuka. Kanana membuka pintu terowongan yang ia buat,  ada tangga yang menuju ke pintu terowongan melalui lobang itu. Kemudian ia berkata, “Terowongan inilah yang akan membawa kita sampai di bawah bukit dengan selamat”.
Baru saja Kanana akan menutup pintu terowongan kembali, mereka dikejutkan oleh cahaya merah yang tiba-tiba saja menjadi besar. Bale Sigala-gala dibakar.
Saat itu Kunti teringat dengan ke enam pertapa yang tidur nyenyak tidak jauh darinya. Tetapi ketika ia akanmembuka pintu, ternyata pintu sudah dikunci dari luar. Kunti sempat berteriak, “ Selamat malam Sang Pertapa”. Kunthi masih berusaha membuka pintu tetapi ia langsung disaut oleh Bimasena, dan bersama para Pandhwa, dibawa masuk ke pintu terowongan. Kanana bergerak cepat menutup pintu, setelah ia memastikan bahwa Kunti dan para Pandawa telah masuk terowongan.
Bale Sigala-gala yang dibangun indah dan megah habis dilalap api. Purucona sang arsitek, juga menjadi korban. Ia dipaksa untuk menyulut Bale Sigala-gala yang memang dirancang dengan bahan yang mudah terbakar. Namun setelah api membesar, ia dilepar ke dalam api oleh para pengawal yang memang sudah dipersiapkan. Konsep Bale Sigala-gala yang ia bangun, sebenarnya agar para tamu yang hadir merasa nyaman dan tertarik untuk masuk ke pesanggrahan itu, tidak pernah terpikir olehnya, bahwa bangunan itu dibuat demi  sarana untuk melenyapkan para Pandawa.
Selain Purucona, ada enam orang yang menjadi korban, mereka ditemukan di depan pintu runag belakang. Siapa lagi, kalau bukan Kunthi dan kelima anaknya. (Keenam mayat itu adalah mayat keenam pertapa yang tertidur nyenyak saat peristiwa kebakaran itu terjadi).
Malam sudah berganti pagi dan kini sang mentari sudah mulai meninggi. Bukit  pesanggrahan Bale Sigala-gala, sudah penuh sesak orang-orang yang ingin memastikan apakah Raden Yudhistira dan keempat saudara beserta Ibunya dapat menyelamatkan diri.
 “Inilah mayat Kunthi, walaupun sudah menjadi arang, masih kelihatan bahwa ini adalah mayat seorang wanita. Dan yang lima ini adalah anak-anaknya, yaitu: Yudhisthira, Bimasena, Herjuna, Nakula dan Sadewa.” Denga penuh keyakinan, Sangkuni meyakinkan bahwa keenam mayat tersebut adalah Kunthi dan Pandhawa lima. 
Para rakyat bersedih, para kawula menangis, meliat keenam mayat yang diyakinkan Sengkuni adalah mayat Kunthi dan anak-anaknya. Par kawula pedesan datang, bersimpuh  mengelilingi keenam mayat tersebut. Rasa hormat dan rasa cinta yang begitu tinggi yang ditunjukkan rakyat Hastinapura kepada Pandawa meskipun sudah menjadi abu, membuat Sengkuni dan Para Korawa panas hatinya. Maka, segeralah Patih Sengkuni membubarkan para  kawula padesan itu.
Posted on 17.32 / 0 komentar / Read More

Dewi Amba


Amba adalah salah satu tokoh yang muncul dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah putera raja Kerajaan Kasi. Amba mempunyai dua adik perempuan yaitu Ambika danAmbalika, dan ketiga-tiganya diboyong ke Hastinapura oleh Bisma untuk dinikahkan kepada adiknya, Wicitrawirya, raja Hastinapura.

Sudah menjadi tradisi, bahwa kerajaan Kasi akan memberikan putrinya kepada pangeran keturunan Kuru. Namun, saat Wicitrawirya mewarisi takhta Hastinapura, tradisi itu tidak dilaksanakan. Kerajaan Kasi mengadakan sayembara untuk menemukan jodoh para puterinya. Bisma kemudian datang mengikuti sayembara itu, dan ia berhasil mengalahkan semua peserta yang ada, termasuk Raja Salwa, yang sebenarnya sudah dipilih Amba untuk menjadi suaminya. Namun hal itu tidak diketahui Bisma, dan Amba pun tidak berani untuk mengatakannya.

Bersama dengan Ambika dan Ambalika, Amba diboyong ke Hastinapura untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Ambika dan Ambalika akhirnya menikah dengan Wicitrawirya, namun tidak dengan Amba. Hatinya sudah tertambat kepada Salwa, dan ia pun mejelaskan bahwa sebenarnya ia sudah memilih Salwa untuk menjadi suaminya. Wicitrawirya merasa bahwa tidak baik menikah dengan wanita yang sudah terlanjur mencintai orang lain, dan ia akhirnya mengizinkan Amba untuk pergi menghadap Salwa.

Amba kemudian pergi menghadap Salwa, namun apa yang ia dapatkan ternyata tidak sama dengan yang menjadi harapannya. Salwa menolaknya, karena ia enggan menikahi wanita yang telah direbut darinya. Salwa merasa, Bisma lah yang pantas menikah dengan Amba, karena Bisma yang telah mengalahkan dirinya.

Dengan rasa malu dan kecewa, Amba kembali ke Hastinapura untuk menikah dengan Bisma. Namun Bisma juga menolaknya, karena Bisma telah berjanji bahwa ia tidak akan menikah seumur hidup. Hidup Amba akhirnya terkatung-katung di hutan, dalam hatinya timbul kebencian terhadap Bisma, orang yang telah memisahkannya dari Salwa dan membuat hidupnya menjadi tidak jelas.

Di dalam hutan, ia bertemu dengan Resi Hotrawahana, kakeknya. Amba menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Setelah mendengar masalah sang cucu, resi Hotrawahana meminta bantuan Rama Bargawa atau Parasurama, guru Bisma untuk membujuk Bisma agar menikah dengan Amba.

Namun, bujukan Parasurama juga terus ditolak oleh Bisma, hingga sang guru marah dan menantang untuk bertarung. Pertarungan antara guru dan murid itu berlangsung sengit, dan baru diakhiri setelah para dewa menengahi permasalah tersebut.

Amba pergi berkelana dan bertapa memuja para dewa, memohon agar bisa melihat Bisma mati. Sangmuka, putera dewaSangkara, muncul dan memberi kalung bunga kepada Amba. Ia berkata, bahwa orang yang memakai kalung bunga tersebebut yang akan menjadi pembunuh Bisma.

Setelah mendapat kalung bunga dari Sangmuka, Amba berkelana mencari ksatria yang bersedia memakai kalung bunganya. Tidak ada seorang pun yang mau memakai kalung bunga tersebut meskipun itu pemberian dewa, jika mengetahui lawannya adalah Bisma. Begitu juga dengan Drupada, raja kerajaan Panchala, ia juga takut jika harus melawan Bisma. Amba mencapai puncak kemarahannya dan melemparkan kalung bunga itu ke tiang balai pertemuan Raja Drupada.

Dengan penuh rasa kebencian terhadap Bisma, Amba melakukan tapa, dalam pikirannya, ia hanya ingin melihat Bisma mati. Melihat ketekunan Amba, Dewa Sangkara muncul dan berkata bahwa Amba akan bereinkarnasi sebagai pembunuh Bisma. Setelah mendengar pemberitahuan sang dewa, Amba membuat api unggun, lalu membakar dirinya sendiri.

Namun, dalam versi lain disebutkan bahwa kematian Amba adalah karena ketidaksengajaan Bisma. Dikisahkan, untuk menjauhi Amba, Bisma lebih memilih untuk mengembara. Namun, Amba selalu mengikuti kemanapun Bisma pergi, akhirnya Bisma menodongkan panah kearah Amba untuk menakut-nakutinya, agar Amba pergi.

Amba tidak takut dengan ancaman Bisma, ia berkata bahwa kesenangan atau matinya semua karena Bisma, ia malu bila harus kembali ke kerajaan Kasi maupun Hastinapura. Bisma terdiam mendengar perkataan Amba. Karena terlalu lama ia merentangkan panahnya, membuat tangannya berkeringat, dan tanpa sengaja, anak panak terlepas dari busurnya dan menembus dada Amba.

Karena memang tidak disengaja, Bisma segera membalut luka Amba sambil menangis tersedu-sedu. Namun, sebelum Amba menghembuskan napas terakhirnya, ia berpesan kepada Bisma, bahwa ia akan menjelma sebagai anak raja Drupada yang akan ikut serta dalam pertempuran akbar antara Pandawa dan Korawa.

Dalam kehidupan selanjutnya, lahirlah Srikandi anak raja Drupada dari kerajaan Panchala yang merupakan reinkarnasi dari Amba. Srikandi adalah istri Arjuna, penengah Pandawa. Meskipun ia seorang wanita tetapi ia terampil dalam ilmu keprajuritan terutama ilmu memanah. Srikandi lah yang bersedia memakai kalung bunga Dewa Sangkara, dan itu berarti ia lah yang akan menjadi penyebab gugurnya Bisma.

Kutukan Amba akhirnya memang menjadi kenyataan, saat perang akbar di Kurukhsetra, Srikandi turut  terjun ke medan laga. Ia berhadapan dengan Resi Bisma, saat itu Resi Bisma tahu bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, karena ia tidak mau menyerang bila berhadapan dengan seorang wanita, Bisma menjatuhkan senjatanya. Arjuna tahu bahwa hak itu akan dilakukan Resi Bisma, ia bersembunyi di belakang Srikandi dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Resi Bisma, kakek yang sebenarnya sangat dihormati dan disayanginya. Dengan bantuan Srikandi inilah Arjuna dapat membunuh Resi Bisma. Namun dalam pewayangan Jawa, yang membunuh Resi Bisma adalah Srikandi dengan panah Hrusangkali.

Dalam pewayangan Jawa, kisah hidup Amba tidak jauh berbeda.Dewi Amba adalah puteri sulung dari Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura dengan Dewi Swargandini. Ia memiliki dua adik perempuan bernama Dewi Ambika dan Dewi Ambiki.

Amba dan kedua adiknya diboyong oleh Bisma, putera Prabu Santanu dengan Dewi Jahnawi (Dewi Gangga). Bisma memenangkan sayembara untuk mendapatkan ketiga puteri tersebut dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka.

Amba yang merasa sudah dipertunangkan dengan Prabu Citramuka, raja negara Swantipura, Amba memohon kepadaDewabrata agar dikembalikan kepada Prabu Citramuka. Namun ternyata Prabu Citramuka menolak Amba semenjak ia menjadi puteri boyongan Bisma. Ia pun ditolak oleh Bisma, ketika Amba ingin mengikuti Bisma kembali ke Hastinapura. Namun, Amba terus memaksa hingga Bisma merentangkan panahnya untuk menakut-nakuti Amba, namun tnapa sengaja, anak panah itu lepas dari busurnya dan mengenai Amba hingga tewas.

Sebelum meninggal, Amba mengutuk, bahwa ia akan menuntut balas kematiannya dengan seorang prajurit wanita. Prajurit wanita itu adalah Srikandi, yang menjadi penyebab kematian Bisma dalam perang Bharatayuddha.
Posted on 17.32 / 0 komentar / Read More

Sri Rama

Rama, Sri Rama atau Ramacandra adalah salah satu tokoh utama dalam wiracaritaRamayana. Ia adalah putera dari Prabu Dasarata (raja Ayodhya) dengan Kosalya.Rama dipandang sebagai Maryada Purushottama, yang berarti manusia sempurna. Ia juga diyakini sebagai awatara Dewa Wisnu yang ketujuh yang turun pada zaman Tretayuga. Rama bristrikan Dewi Sita atau Dewi Sinta, inkarnasi dari Dewi Laksmi. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua anak kembar yaitu Kusa dan Lawa.
Dalam wiracarita Ramayana, diceritakan bahwa sebelum Rama lahir, Triloka diteror oleh seorang raja raksasa yang bernama Rahwana. Para Dewa tidak bisa menandingi kekuatan Rahwana sehingga membuat mereka cemas. Akhirnya Dewa Bumi menghadap kepadaBrahma agar beliau bersedia menyelamatkan alam dan seisinya. Para Dewa akhirnya memutuskan agar Dewa Wisnu bersedia menjelma menjadi seorang manusia untuk menegakkan dharma dan menyelamatkan dunia. Dewa Wisnu bersedia mendapat tugas itu dan berjanji akan turun ke dunia sebagai Rama, putera Prabu Dasarata dari Ayodhya. Dalam penjelmaannya, Dewa Wisnu ditemani oleh Naga Sesa yang kemudian menjadi Laksmana dan Laksmi yang menjadi Sita (Sinta).
Raja Dasarata saat itu merindukan kehadiran putera, kemudian ia mengadakan upacara Putrakama Yadnya (memohon putera) kepada Dewa. Para Dewa mengabulkan permintaan Dasarata dan memberikan air suci agar diminum ketiga istrinya. Dari anugerah tersebut  lahirlah Rama dari Kosalya; Bharata dari Kekayi, dan Laksmana serta Satrugna dari Sumitra. Keempat pangeran Ayodhya itu tumbuh menjadi putera yang gagah-gagah dan terampil dalam memainkan senjata di bawah bimbingan Resi Wasista.
Suatu hari, Raja Dasarata kedatangan Resi Wiswamitra yang meminta bantuan Rama untuk mengusir para raksasa yang mengganggu yadnya  para resi di hutan. Sebenarnya Dasarata keberatan mengabulkan permohonan Wiswamitra, karena Rama masih terlalu muda untuk menghadapi para raksasa itu. Namun ia juga takut akan kutukan Resi Wiswamitra. Akhirnya Prabu Dasarata pun mengabulkan permohonan Wiswamitra dan mengizinkan puteranya untuk membantu para resi.
Dalam  perjalanan mereka ke Sidhasrama yaitu kediaman para resi, Rama dan Laksmana mendapat mantra sakti dari Resi Wiswamitra yaitu Bala dan atibala. Saat melewati hutan Dandaka, Rama berhasil membunuh rekshasi Tataka. 
Tibalah mereka di Sidhasrama, datanglah raksasa Marica dan Subahu mengotori sesajen dengan darah dan daging mentah. Melihat hal itu, Rama dan Laksmana segera bertindak, namun atas permintaan Rama, Marica akhirnya diampuni oleh Laksmana. Sedangkan Subahu tidak diberi ampun oleh Rama, dengan senjata Agneyastra atau panah Api, Rama membakar tubuh Subahu sampai menjadi Abu. Dengan bantuan Rama dan Laksmana, akhirnya pelaksaan yadnya para resi berlangsung dengan lancar dan aman.
Di Mithila diadakan Sayembara untuk memperebutkan Dewi Sita, Wiswamitra kemudian mengajak Rama dan Laksmana untuk mengikuti sayembara tersebut. Mereka berdua pun setuju dan pergi menuju Mithila. Sementara di Mithila belum ada satu orang pun yang mampu memenuhi persyaratan untuk menikahi Sinta, yaitu mengangkat dan membengkokan busur panah Siwa.
Rama kemudian tampil ke muka, ia tidak hanya berhasil mengangkat dan membengkokan busur panah Siwa, tetapi juga mematahkannya menjadi tiga bagaian. Melihat kemampuan Rama tersebut, Prabu Janaka, ayah Sita memutuskan untuk mengambil mantu Rama.Utusan dikirim ke Ayodhya untuk memberi kabar tersebut. Pabu Dasarata bahagia, karena puteranya sudah mendapatkan istri di Mithala, dan ia pun segera berangkat ke Mithila untuk menghadiri upacara pernikahan Rama, puteranya.
Rama kemudian memboyong Sinta ke Ayodhya, dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Resi Parasurama yaitu brahmana sakti yang ditakuti para ksatria. Ia memegang sebuah busur di bahunya yang konon adalah busur Wisnu. Parasurama mendengar kabar bahwa Rama telah mematahkan busur Siwa, dan ia menantang Rama untuk membengkokan busurnya. Rama menerima tantangan tersebut, dan dengan mudah busur Wisnu itu dibengkokannya.Rama kemudian berkata, “ Panah Waisnawa ini harus mendapat mangsa. Apakah panah ini harus menghancurkan kekuatan Tuan atau hasil tapa Tuan?”. Parasurama menjawab agar panah itu menghancurkan hasil tapanya, karena ia hendak merintis hasil tapanya dari awal. Kemudian ia pamit untuk pergi ke Gunung Mahendra.
Dasarata sudah tua, ia ingin turun takhta dan mengangkat putera sulungnya Rama, untuk menggantikannya. Persiapan untuk upacara penobatan Rama sudah disiapkan, namun Kekayi kemudian meminta Agar Dasarata menobatkan Bharata menjadi Raja dan Rama dibuang selama 14 tahun. Mendengar permintaan Kekayi, Dasarata sedih tetapi ia juga tidak bisa menolak  karena ia terikat janji dengan Kekayi. Dan dengan berat hati Dasarata menobatkan Bharata sebagai raja dan meminta Rama untuk meninggalkan Ayodhya.
Rama menerima keputusan ayahnya, dengan disertai istri tercintanya Sinta dan Laksmana mereka pergi mengembara di hutan. Karena kesedihan yang berlarut-larut, akhirnya Dasarata wafat.
Bharata yang baru kembali ke Ayodhya, menjumpai ayahandanya sudah tiada, dan Rama pun sudah meninggalkan Ayodhya. Kekayi, ibundanya kemudian menjelaskan bahwa ialah yang kini menjadi raja, namun Bharata tidak menginginkan hal itu, ia kemudian menyusul Rama dan memberikan kabar duka serta meinta Rama untukkembali ke Ayodhya untuk menjadi Raja. Namun Rama menolak, dan ia memberikan ajaran-ajaran agama kepada Bharata. Akhirnya Bharata bersedia menjadi raja di Ayodhya dengan membawa sandal milik Rama dan meletakkannya di singgasana, itu sebagai lambang bahwa ia memerintah Ayodhya atas nama Rama.
Saat menjalani pengasingan di hutan, Rama dan Laksmana di datangi oleh rekshasi bernama Surpanaka yang mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik. Ia menggoda Rama dan Laksmana, namun mereka menolaknya.Surpanaka yang sakit hatidan iri melihat kecantikan Sita,hendak  membunuhnya. Dengan sigap Rama melindungi Sinta dan Laksmana mengarahkan pedangnya kepada Surpanaka yang menyebabkan hidung Surpanaka terluka. 
Dengan rasa malu, Surpanaka kemudian mengadu kepada kakaknya yang bernama Kara. Kara marah dan membalas dendam kepada Rama. Dengan angkatan perang yang besar, ia menggempur Rama, namun mereka semua tewas. Akhirnya Surpanaka mengadu kepada Rahwana di kerajaan Alengka. Rahwana marah dan ia mengajak patihnya yang bernama Marica untuk membalas dendam kepada Rama.
Marica menyamar sebagai seekor kijang yang akan mengalihkan perhatian Rama. Kijang itu melompat-lompat di halaman pondokan Rama, Sinta dan Laksmana. Melihat ada kijang yang lucu, Sinta meminta suaminya untuk memburu kijang Tersebut. Rama dan Laksmana sebenarnya tahu bahwa kijang itu bukanlah kijang biasa, namun karena desakan Sita, akhirnya Rama memburu kijang tersebut.Sementara Laksmana ditugaskan untuk menjaga Sita di pondokan.
Rama mengejar kijang itu sampai ke tengah hutan,ia kemudian memanahnya, seketika kijang itu berubah wujud menjadi Marica. Saat Marica sekarat, ia mengerang keras dengan menirukan suara Rama. Mendengar suara itu,Dewi Sita merasa ada sesuatu yang buruk menimpa suaminya, maka ia pun meminta Laksmana untuk menyusul Rama. Awalnya Laksmana menolak, namun karena desakan Sinta akhirnya ia menjalankan perintah kakak iparnya itu. Tapi sebelumnya, ia membuat lingkaran pelindung agar tidak ada orang jahat yang mampu menculik Sita.
Sementara Rahwana menyamar menjadi brahmana tua, datang mendekati Sinta. Ia mengiba dan berhasil membuat Sita keluar dari lingkaran yang dibuat oleh Laksmana dan dengan cepat ia menculik Sinta dibawa ke Alengka.
Mengetahui istrinya sudah tidak ada, perasaan Rama menjadi terguncang. Kemudian Rama dan Laksmana menyusuri pelosok gunung, hutan dan sungai untuk mencari keberadaan Sinta. Dalam perjalanan, mereka menemukan ceceran darah dan pecahan-pecahan kereta, seolah-olah telah terjadi suatu pertempuran.Rama berpikir itu adalah pertempuran raksasa yang memperebutkan Sita.
Namun, tidak lama kemudian ia bertemu dengan seekor burung yang sedang sekarat, burung itu adalah Jatayu, sahabat Raja Dasarata. Jatayu kemudian memberitahu Rama dan laksmana bahwa Sinta diculik Rahwana. (Jatayu terluka karena berusaha untuk menyelamatkan Sinta dari Rahwana)
Setelah selesai mengadakan upacara pembakaran jenazah Jatayu, Rama dan Laksmana melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanan, mereka bertemu denga raksasa aneh yang memiliki tangan panjang. Akhirnya, Rama dan Laksmana memotong lengan raksasa tersebut. Namun raksasa tersebut kemudian berubah wujud mejadi seorang dewa bernama Kabanda. Dengan petunjuk Kabanda, mereka pergi ke tepi sungai Pampa untuk mencari Sugriwa di bukit Resyakuma
Sugriwa yang mendengar ada dua kesatria yang menuju wilayahnya, kemudian mengutus Hanoman untuk mencari tahu siapa sebenarnya dan apa tujuan mereka berdua. Hanoman kemudian pergi dengan menyamar sebagai brahmana dan bertemu dengan Rama dan Laksmana. Mereka terlibat percakapan yang cukup lama, Rama menceritakan peristiwa yang menimpanya dan maksud tujuannya mencari Sugriwa. Setelah mendengar pengakuan dari Rama, Hanoman kemudian merubah ke wujud aslinya dan mengantar mereka bertemu dengan Sugriwa.
Akhirnya Rama dan Sugriwa membuat perjanjian bahwa mereka akan saling membantu. Saat itu Sugriwa sedang berusaha untuk merebut kembali kerajaan Kiskenda dari kakaknya, Subali. Akhirnya dengan bantuan Rama, Subali berhasil dikalahkan dan Kiskenda kembali ke tangan Sugriwa.
Sesuai janji, kini saatnya Sugriwa membantu Rama untuk menyelamatkan Sita yang diculik Rahwana. Sugriwa mengutus Hanoman untuk ke Alengka mencari keberadaan Sinta. Hanoman berhasil menemukan Sita di Alengka, dan menyampaikan kabar bahwa Rama dalam keadaan baik-baik saja dan akan menyelamatkannya. Sebenarnya, Anoman mengajak Sinta untuk meninggalkan Alengka dan bertemu dengan Rama kembali. Namun, sinta menolak , dia ingin Rama sendiri yang menjemputnya. Hanoman tidak bisa memaksa, dan ia kembali memberikan kabar kepada Rama.
Setelah menyusun strategi, bala tentara wanara berangkat menuju Alengka. Dan atas saran Wibisana, adik Rahwana yang memilih untuk berada di pihak Rama, pasukan wanara membuat jembatan menuju ke Alengka.
Rama dan pasukannya kemudian menyeberang ke Alengka. Pada pertempuran pertama, Anggada menghancurkan menara Alengka. Rahwana kemudian mengirimkan mata-mata untuk meninjau kekuatan musuh. Mata-mata itu menyamar menjadi wanara, sehingga tidak ada yang tahu kecuali Wibisana.
Wibisana kemudian menangkap mata-mata tersebut dan dihadapkannya kepada Rama. Utusan Rahwana itu memohon apun dan berkata bahwa ia hanya menjalankan perintah. Rama mengizinkan mata-mata tersebut untuk melihat kekuatan tentara Rama dan berpesan agar Rahwana segera mengembalikan Sita.
Pada hari terakhir, dengan menggunakan kereta perang Dewa Indra yang dikusiri Matali, Rama maju ke medan laga. Rama berhadapan dengan Rahwana, dan dengan senjata Brahma Astra, Rama berhasil membunuh Rahwana.
Setelah berhasil menyelamatkan Dewi Sinta, Rama kemudian memberikan Alengka kepada Wibisana dan memberikan wejangan kepada Wibisana agar membangun kembali negara Alengka.
Posted on 10.54 / 0 komentar / Read More

Baladewa


Baladewa adalah salah satu tokoh yang muncul dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi tokoh netral dalam wiracarita Mahabharata.Baladewa adalah putera Basudewadan Dewaki. Ia adalah kakak dari Kresna dan Dewi Subadra (istri Arjuna). Ia memiliki watak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Baladewa memiliki dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. 

Baladewa sebenarnya adalah kakak kandung Kresna, putera Basudewa dan Dewaki. Namun ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin. Dikisahkan, Kamsa, kakak Dewaki takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan putera kedelapan Dewaki. Oleh karena itu, ia menjebloskan Dewaki dan suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan Dewaki.

Saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, takdir berkata lain, bahwa anak yang kelak dilahirkannya ini tidak akan mati di tangan Kamsa. Maka secara ajaib janin itu pindah ke rahim Rohini yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa juga memiliki nama lain yaitu Sankarsana yang berarti “pemindahan janin”.

Pada masa kecilnya, baladewa bernama Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia disebut Balarama atau Baladewa (bala=kuat). Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna. Ia menikah denganReawati, puteri Raiwata dari Anarta.


Baladewa dalam Mahabharata terkenal sebagai pengajar Doryudana dan Bima dalam menggunakan senjata gada. Saat perang diKurukhsetra, Baladewa tidak turut serta, ia lebih memilih menjadi pihak yang netral. Namun, ketika Bima hendak membunuh Doryudana, ia mengancam akan membunuh Bima,namun hal itu dapat dicegah oleh adiknya, Kresna. Kresna menyadarkan bahwa Bima membunuh Doryudana untuk memenuhi sumpahnya. Kresna juga mengingatkan Baladewa akan segala keburukan Doryudana.

Dalam pewayangan Jawa, Baladewa adalah saudara Prabu Kresna. Waktu mudanya Prabu Baladewa bernama Kakasrana. Ia adalah putera Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan Dewi Mahendra atau Maekah. Ia memiliki saudara lain ibu bernama Dewi Subadra yang menjadi istri Arjuna, puteri Prabu Basudewa dengan Dewi Badrahini. Baladewa juga memiliki saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putera Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi.

Saat mudanya, Baladewa pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya dan bergelar Wasi Jaladra. Ia menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati. Dari perkawinan itu, ia dikaruniai dua orang putera bernama Wisata danWimuka.

Saat perang Bharatayuddha, Prabu Baladewa sebenarnya memihak Korawa, namun dengan siasat Kresna, Baladewa tidak ikut dalam peperangan, ia justru bertapa di Grojogan Sewu. Kresna meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu, dan ia berjanji akan membangunkannya jika Bharatayuddha terjadi. Sebenarnya tujuan Kresna adalah agar Baladewa tidak mendengar saat perang Bharatayuddha terjadi, karena bila Baladewa ikut dalam peperangan, Pandawa pasti kalah karena Baladewa sangat sakti. 

Ada yang mengatakan Baladewa adalah titisan naga, namun ada pula yang meyakini bahwa ia adalah titisan Sanghyang Basuki,  Dewa keselamatan. Baladewa berumur panjang, ia menjadi pamong dan penasihat Prabu Parikesit, raja Hastinapura yang menggantikan Prabu Puntadewa. Baladewa mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.
Posted on 10.50 / 3 komentar / Read More

Wisanggeni


Bambang Wisanggeni atau Wisanggeni, dalam pewayangan Jawa merupakan putera Arjuna dengan Batari Dresanala, puteri Bathara Brama. Dalam wiracarita Mahabharata, ia sebenarnya tidak ada dan tidak pernah muncul. Wisanggeni digambarkan sebagai sosok yang pemberani, tegas dalam bersikap , dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Bahkan kesaktiannya melebihi kesaktian anak para Pandawa yang lain seperti Antareja, Gatotkaca maupun Abimanyu. Dalam berbicara Wisanggeni tidak pernah menggunakan basa krama kepada siapapun kecuali dengan Sanghyang Wenang.

Dikisahkan bahwa kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, puteraBatari Durga terhadap Arjuna yang menikahi Batari Dresanala. Dia meminta kepada ibunya supaya memisahkan pernikahan mereka. Batari Durga mengabulkan keinginan anaknya tersebut dan menghadap suaminya Batara Guru, yaitu raja para Dewa untuk memisahkan antara Arjuna dan Batari Dresanala.

Atas desakan istrinya, akhirnya Batara Durga pun memerintahkan Batara Brama menceraikan Arjuna dan Dresanala. Namun, keputusan itu ditentang Batara Narada, penasihat Batara Guru. Narada lebih memilih membela Arjuna dan mengundurkan diri sebagai penasihat Batara Guru.

Brama yang telah kembali dari kahyangan pun menuruti apa yang menadi perintah rajanya. Ia menyuruh Arjuna untuk pulang ke dunia dengan alasan Dresanala akan dijadikan penari di kahyangan utama. Arjuna tanpa sedikitpun curiga, menuruti apa yang menjadi perintah mertuanya, padahal saat itu, Dresanala sedang dalam keadaan mengandung. Setelah Arjuna pergi, Brama menghajar Dresanala, puterinya sendiri untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.

Dresanala tidak bisa menolak perintah ayahandanya, dia pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemput Dresanala setelah melahirkan, sementara Batara Brama membuang bayi yang baru saja dilahirkan puterinya itu ke dalam kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa.

Narada yang memang mengawasi semua kejadian itu, membantu bayi Dresanala keluar dari kawah Candradimuka. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Batara Narada memberinya nama Wisanggeni yang bermakna “racun api” kepada bayi Dresanala itu. Nama itu diberikan Narada, karena bayi itu karena kemarahan  kakeknya, Brama, Dewa Penguasa Api.

Dengan petunjuk Narada, Wisanggeni membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Bathara Guru. Akhirnya Batara Guru dan Batara Brama mengakui kesalahannya, dan Narada bersedia untuk kembali bertugas di kahyangan.

Setelah membuat kekacauan di kahyangan, Wisanggeni kemudian pergi ke kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna agar diakui sebagai anak. Awalnya Arjuna menolak, kemudian terjadi perang tanding antara keduanya. Dalam pertarungan itu, Wisanggeni bisa mengalahkan Arjuna dan para Pandawa yang lain. Ia kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Mendengar apa yang di ceritakan anaknya, Arjuna kemudian pergi ke kerajaan Tunggulmalaya, untuk merebut kembali Dresanala dari Dewasrani.  Pertarungan  sengit antara Arjuna dan Dewasrani pun tidak bisa dielakkan, namun akhirnya Arjuna berhasil memenangkan pertarungan itu, dan berhasil merebut kembali Dresanala.

Dalam cerita yang lain, Wisanggeni memang anak Arjuna dengan Dewi Dresanala. Ia lahir karena Dresanala besikukuh tidak mau menggugurkan kandungannya seperti tujuh bidadari yang lain, yang hamil karena sebagai anugerah Dewa kepada Arjuna yang telah berhasil membebaskan kahyangan dari raksasa Niwatakawaca yang menginginkan Dewi Supraba.

Saat kelahirannya, ia hendak dibunuh olek kakeknya, Bathara Brama atas perintah Batara Guru karena kelahirannya dianggap menyalahi kodrat. Namun Wisanggeni adalah titisan Sang Hyang Wenang, maka ia pun selamat.

Wisanggeni diasuh dan dibesarkan Batara Baruna (Dewa penguasa lautn) dan Hyang Antaboga, yang menjadikan Wisanggeni memiliki kesaktian yang laur biasa. Dalam cerita pewayangan, Wisanggeni dikisahkan bisa terbang seperti Gatotkaca dan ambles bumi seperi Antareja, dan hidup di laut seperti Antasena.

Menjelang meletusnya perang di Kurukhsetra (Baratayuda)Wisanggeni bersama Antasena naik ke kahyangan Alang-alang kumitir untuk meminta restu kepada Sanghyang Wenang. Namun Sanghyang Wenang justru meramalkan, bahwa Pandawa akan kalah apabila Wisanggeni dan Antasena ikut daam pertempuran tersebut. Akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan tidak kembali ke perkemahan Pandawa dan rela menjadi tumbal demmi kemenangan para Pandawa. Mereka berdua mengheningkan cipta, dan kemudian mereka mencapai moksa, musnah bersama jasadnya.
Posted on 00.18 / 0 komentar / Read More

Ki Enthus Soesmono

ENTHUS SOESMONO, (1966 -  ), lahir pada Selasa Legi, tanggal 21 Juni 1966 di Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Ia adalah anak satu-satunya Soemarjadihardja, dalang wayang golek terkenal di Tegal, dengan istri ketiga yang bernama Tarminah.
Sejak berumur 5 tahun ia telah sering mengikuti pentas ayahnya. Oleh karena itu ia sangat akrab dengan dunia pedalangan. Kesukaannya menggambar, menatah dan mewarnai (nyungging) wayang kulit  menghasilkan karya pertama tokoh Indrajid, yang dikerjakan pada saat ia duduk di kelas IV SD. Setelah sekolah di SMP Negeri 1 Tegal (1979-1981) ia mulai menekuni karawitan secara metodik, yang diasuh oleh dua orang guru keseniannya, Mawardi dan Prasetyo. Ketrampilannya menabuh gamelan itu kemudian digunakan untuk melatih rekan-rekan di SMA Negeri 1 Tegal (1982-1985), yang semula tidak pernah mendapat kegiatan ekstrakurikuler karawitan karena tidak mempunyai grup musik yang merupakan kolaborasi antara karawitan dan band.
Kemampuan pedalangannya tidak didapat dari lembaga pendidikan formal seperti SMKI, kursus pedalangan, maupun pelajaran ayahnya, tetapi karena ia sering mengikuti pentas ayahnya dan jeli mengamati sajian pakeliran para dalang lain. Hampir setiap ada pertunjukan wayang di daerahnya selalu disaksikan. Selain itu ia juga berlatih secara serius kepada Sugino Siswotjarito (Banyumas) dan Ki Gunawan Suwati (Slawi), aktif mendengarkan kaset komersial rekaman pakeliran Ki Nartosabdo (Semarang) dan Ki anom suroto (Surakarta), serta sering menyaksikan para dosen ASKI Surakarta  yang sedang memberikan materi kuliah praktik pedalangan di Kampus ASKI, Sasonomulyo Keraton Surakarta (1982-1983)
Keinginan tampil sebagai dalang wayang kulit purwa tidak dapat dicegah ketika kelas dua SMA, di sekolahnya ada acara lustrum kelima SMA Negeri 1 Tegal, yang dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 1983. Pada saat itu ia menyajikan pakeliran ringkas selama 4 jam dengan lakon Gatutkaca Winisudha, yang diiringi kolaborasi karawitan dan band oleh rekan-rekan SMA-nya. Ia menekuni pedalangan sebagai profesi karena terpaksa harus menggantikan peran ayahnya yang telah meninggal dunia pada 10 Februari 1984. saat itu ayahnya banyak meninggalkan job pentas yang belum sempat dilaksanakan, sementara uang muka sudah terlanjur diterima oleh ibunya. Oleh karena itu dengan berbekal keberanian ia menggantikan peran ayahnya sebagai dalang wayang golek. Sejak itu profesi sebagai dalang merupakan penyangga kebutuhan hidup bersama ibunya. Oleh karena itu ia mulai giat berlatih dan mencari kiat-kiat yang belum pernah ditampilkan dalam pakeliran wayang kulit maupun golek.
Pada tahun 1984 ia mengikuti lomba pakeliran padat dalang remaja se-Jawa Tengah di Klaten, sebagai wakil Kabupaten Tegal, dengan menyajikan lakon Brajadenta mBalela. Dalam lomba tersebut ia hanya mampu meraih Juara harapan II. Namun demikian kegagalannya itu tidak membunuh keinginanya menjadi dalang, sebaiknya justru sebagai peringatan untuk lebih giat berlatih. Ia menjadi semakin aktif datang ke kampus ASKI Surakarta serta minta saran, pendapat, bahkan contoh-contoh teknik pakeliran yang baik kepada Ki Manteb Soedarsono.
Mengembara

Setelah lulus SMA Enthus tidak dapat melanjutkan kuliah karena tidak mempunyai biaya. Pada saat itu keluarganya hidup dibawah garis kemiskinan. Oleh karena itu agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan sesuai dengan harapan almarhum ayahnya, ia mendaftarkan diri menjadi polisi. Namun tidak diterima karena ia dianggap tidak bersih lingkungan; pada waktu itu kakak sulungnya, darjoprayitno, baru bebas dari Nusakambangan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia bekerja menjadi penyiar selkaligus penata musik dan pemain teater di RSPD Tegal merangkap sebagai penyiar radio Anita Tegal. Namun ternyata hal tersebut belum mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu ia mencari pekerjaan tambahan sebagai buruh. Natah dan nyungging wayang golek di berbagai tempat dalang wayang golek yang memerlukan jasanya.

Untuk memperbaiki kehidupannya, pada setiap malam ia selalu menyempatkan diri untuk belajar Alqur’an dan berdiskusi tentang ilmu agama. Disamping itu ia juga sering meminta bimbingan para kyai di berbagai pondok pesantren.

Mulai Terkenal

Pada tahun 1988 ia mengikuti lagi lomba pakeliran padat se-Jawa Tengah, dengan menyajikan lakon Ciptoning karya Bambang suwarno. Dalam lomba tersebut ia berhasil meraih Juara I sekaligus dalang Favorit. Keberhasilannya meraih juara pada lomba pakeliran padat etrsebut mampu mengangkat namanya ke lingkup yang lebih lus, kemampuannya sebagai dalang wayang kulit menjadi dikenal masyarakat terutama di wilayah pantai utara Jawa Tengah.

Ketika karier pedalangan Ki Manteb Soedarsono mulai dikenal dikalangan yang lebih luas dan menempati posisi sejajar dengan Ki Anom Suroto, Enthus Susmono berupaya dapat meniru berbagai aspek pakelirannya. Maka setiap Manteb Soedarsono pentas selalu dilihat dan diperhatikan. Hampir semua aspek pakeliran khas manteb Soedarsono, baik sabet, gaya bahasa bahwan warna suara, ditirunya semirip mungkin. Khusus sabet yang menggarap aspek bayangan, banyak mengacu pada gaya sabet bambang suwarno (dosen STSI Surakarta) yang dikenal dengan sabet pakeliran padat, sedangkan sabet peperangan mengacu gaya sabet Ki Mulyanto mangkudarsono (Sragen) yang lebih dikenal dengan sabet gaya Sragenan. Namun demikian bagi Enthus Susmono, hanya bambang Suwarno dan Manteb Soedarsono yang dianggap sebagai guru serba paling besar pengaruhnya terhadap nuansa pakelirannya. Bahkan model figur-figur wayangnya pun, terutama wayang-wayang desain baru banyak mengacu dari figur-figur wayang karya bambang Suwarno dan Manteb Soedarsono. Model figur-figur kayon mengacu dari karya dan koleksi bambang Suwarno, sedangkan model wayang setanan dan para raksasa mengacu dari koleksi Manteb Soedarsono.

Perkawinan

Pada tahun 1990 ia kawin dengan gadis pilihannya sendiri, Romiyati, menurunkan dua anak laki-laki: Firman Jendra Satria  dan Firman Haryo Susilo. Mereka menempati rumah peninggalan ayahnya, Soemarjadihardja, di Desa Damyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Namun perkawinannya tersebut hanya berjalan lima tahun. Setelah dua tahun menduda, pada tahun 1997 ia kawin dengan Nurlaela, anak perempuan Sukiman Tamid, guru spiritualnya. Perkawinannya itu tanpa diawali proses pacaran sebagaimana layaknya  orang akan berumah tangga. Ia mempunyai konsep bahwa cinta akan tumbuh seiring waktu berjalan. Perkawinannya yang kedua itu menurunkan seorang anak perempuan bernama firman Nurjannah, bahkan saat ini istrinya sedang mengandung anak kedua. Mereka tinggal serumah dengan Sukiman Tamid, di jalan Prajasumarta II, Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Kariernya sebagai dalang mulai menanjak setelah ia sering tampil dalam pertunjukan wayang kulit dua layar yang diselenggarakan oleh PANTAP dan ditayangkan langsung oleh TVRI Stasiun Semarang dari halaman kantor Sekwilda Jawa Tengah di Semarang (1994-1998)

Desainer wayang

Perhatiannya pada sarana utama pakeliran (wayang0 cukup besar. Ia tidak cukup puas dengan figur-figur wayang yang sudah ada, sehingga berusaha mengembangkan figur wayang tradisi dan atau menciptakan desain baru. Penciptaan tokoh-tokoh  masa kini dalam wayangnya  adalah salah satu upaya untuk memperkenalkan wayang pada generasi muda. Sebab tokoh-tokoh pewayangan seperti Werkudara, Gatutkaca, dan Arjuna mulai terdesak oleh ahdirnya tokoh-tokoh fiktif dari luar budaya Nusantara seperti supermen, Doraemon, Ninja Boy, dan Shinchan. Dengan diciptakan tokoh-tokoh fiktif masa kini dalam bentuk wayang kulit, maka anak-anak akan senang melihat wayang dan setelah itu mereka baru digiring penghayatannya pada karakteristik wayang yang sesungguhnya.

Wayang-wayang baru kreasinyanya tersebut digambar sendri sedangkan pemahatannta dan pewarnaannya dibantu oleh tiga orang penatah dan empat orang penyungging, yang berasal dari daerah Sukoharjo dan Klaten. Sampai saat ini ia telah menyelesaikan hampir 100 buah wayang kreasi serta memiliki sebelas kothak wayang dengan berbagai gaya dan tipe, wayang kulit gaya Kedu, wayang Kulit gaya Cirebon, dan wayang golek Cepak. Wayang-wayang produksinya itu disamping untuk emmenuhi kebutuhan pentas juga sebagai barang dagangan. Diantara karya-karyanya antara lain :

1. Kayon Ganesha 1998
2. Kayon hawa Bayu 1999
3. Kayon Masjid 2000
4. Kayon ganesha Kecil 2000
5. Kayon Liong 2000
6. Kayon Loteng 2001
7. Supermen 1996
8. Gathutkaca Terbang 1996
9. Batman 1996
10. Satria Baja Hitam 1996
11. Sumo 1996
12. Alien 1998
13. Dasamuka 1998
14. Indrajid 1998
15. Patih dan Tumenggung 1998
16. Panakawan Planet 1999
17. Yuyu Rumpung 1999
18. Kreta Jaladara 1999
19. Kreta Jatisura 1999
20. Liong 1999
21. Limbuk dan Suaminya 1999
22. Baris Kampak 1999
23. Ampyak Jaran 2000
24. Osama Bin Laden 2001
25. George Bush 2001
26. Panakawan Teletubbies 2001
27. Togog dan Bilung 2002
28. Pandawa 2002
29. Pendhita Wungkuk 2002
30. Bathara kala 2002
31. Kayon Planet

Tetap mengkritik dan Urakan

Unthus Susmono sebagai dalang sangat sadar bahwa kemampuan pedalangannya diutamakan untuk sumber kehidupannya. Oleh karena itu ia tidak pernah menolak untuk diundang pentas siapapun dan golongan atau partai apa pun. Meskipun demikian ia tetap konsisten pada misinya, yakni sebagai pengontrol sosial, sehingga ia tetap menyampaikan kritik kepada siapapun, baik eksekutif, legislatif , pejabat partai, maupun masyarakat umum. Selain itu gaya urakan tetap dipertahankan sebagai khs pedalangnannya, meskipun hal itu sering mendapat hujatan dari berbagai pihak.
Posted on 11.49 / 0 komentar / Read More

Antareja



Hanantareja atau Antareja adalah putera dari Werkudara dengan Dewi Nagagini, puteri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja memiliki nama lain yaituWasianantareja dan Anantareja. Dalam versi lain seperi wayang klasik versi Surakarta, Antareja adalah nama lain dari Antasena, namun dalam versi Yogyakarta, Antareja adalah kakak lain ibu, Antasena. Antareja memiliki sifat jujur, pendiam, sangat berbakti pada yang lebih tua dan sayang kepada yang muda, rela berkorban dan besar kepercayaanya kepada   Sang Maha Pencipta.

Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau Jangkarbumi.Saat kelahiran Antareja,Kahyangan Suralaya saat itu sdang mendapat serangan dari raja Negara Jangkarbumi, yaitu Prabu Nagabaginda yang ingin meminta Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya. Batara Antaboga kemudian membawa cucunya yang masih bayi itu itu untuk dihadapkan dengan Prabu Nagabaginda.

Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga menjadi kebal terhadap semua senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan semakin bertambah dewasa jika terkena senjata. Akhirnya, raja Jangkarbumi bisa dimusnahkan oleh Antareja, dan negeri Jangkarbumi diserahkan kepadanya.

Antareja memiliki Ajian Upasanta pemberian Hyang Anantaboga. Air liurnya bisa membinasakan lawannya dalam waktu sekejap. Kulitnya bersisik Napakawaca yang mampu menahan serangan senjata. Antareja juga memiliki cincin Mustikabumi pemberian Dewi Nagagini, ibunya, yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang yang mati di luar takdir.Ia juga bisa hidup dan berjalan di dalam tanah (amblas bumi).

Dalam lakon Subadra Larung, cincin itu diperlihatkan kepada Ayahnya Arya Werkudara,sehingga bima mengakuinya sebagai anak.Saat itu, Antareja terkejut melihat perahu mayat wanita yang tak lain adalah Wara Subadra istri Janaka (Arjuna). Antareja kemudian menghidupkan kembali Subadra yang dibunuh Burisrawa secara tidak sengaja dengan cincin Mustikabumi.

Gatotkaca yang mendapat tugas mengawasi jenazah bibinya, menjadi curiga dan menuduh Antareja yang membunuh Wara Subadra.Perkelahian antara keduanya tidak bisa dihindarkan, tetapi segera dicegah Sri Kresna dan memberitahu keduanya bahwa mereka masih bersaudara.Sementara Subadra sendiri juga mengaku bahwa yang membunuh dirinya adalah satriya MadyapuraRaden Burusrawa, putera Prabu Salya raja Mandaraka.

Antareja menikah dengan Dewi Ganggi, puteri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang putera yang diberi nama Arya Danurwenda yang diangkat menjadi patih luar Negara YawastinaPrabu Parikesit.

Akhir riwayatnya, Antareja menjadi tumbal kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayudha. Kurawa tidak rela mengorbankan salah satu keluarganya, melainkan membunuh Ijrada, Traka dan Sarka, sedangkan di pihak Pandawa, Antareja dan Wisanggenirela mengorbankan diri untuk kemenangan Pandawa.Antareja menjilat telapak kakinya sendiri dan mendapat anugerah menempati sorgaloka tingkat Sembilan milik Sri Kresna.
Posted on 11.06 / 0 komentar / Read More

Ki Anom Suroto

ANOM SUROTO, H,  (1948 -  ), dalang Wayang Kulit Purwa, mulai terkenal sebagai dalang sejak sekitar tahun 1975-an. Ia lahir di Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu Legi 11 Agustus 1948. Ilmu pedalangan dipelajarinya sejak umur 12 tahun dari ayahnya sendiri, Ki Sadiyun Harjadarsana. Selain itu secara langsung dan tak langsung ia banyak belajar dari Ki Nartasabdo dan beberapa dalang senior lainnya.
Dalang laris itu juga pernah belajar di Kursus Pedalangan yang diselenggarakan Himpunan Budaya Surakarta (HBS), belajar secara tidak langsung dari Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, bahkan pernah juga belajar di Habiranda, Yogyakarta. Saat belajar di Habiranda ia menggunakan nama samaran Margono.

Pada tahun 1968, Anom Suroto sudah tampil di RRI (Radio Republik Indonesia), setelah melalui seleksi ketat. Tahun 1978 ia diangkat sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon dengan nama Mas Ngabehi Lebdocarito. Tahun 1995 ia memperolah Satya Lencana Kebudayaan RI dari Pemerintah RI.

Selain aktif mendalang, ia juga giat membina pedalangan dengan membimbing dalang-dalang yang lebih muda, baik dari daerahnya maupun dari daerah lain. Secara berkala, ia mengadakan semacam forum kritik pedalangan dalam bentuk  sarasehan dan pentas pedalangan di rumahnya Jl. Notodiningratan 100, Surakarta. Acara itu diadakan setiap hari Rabu Legi, sesuai dengan hari kelahirannya, sehingga akhirnya dinamakan Rebo Legen. Acara Rebo Legen selain ajang silaturahmi para seniman pedalangan, acara itu juga digunakan secara positif oleh seniman dalang untuk saling bertukar pengalaman. Acara itu kini tetap berlanjut di kediamannya di Kebon Seni Timasan, Pajang, Sukoharjo. Di Kebon seni itu berdiri megah bangunan Joglo yang begitu megah dalam area kebon seluas 5000 M2.

Hingga akhir abad ke-20 ini, Anom Suroto adalah satu-satunya yang pernah mendalang di lima benua, antara lain di Amerika Serikat pada tahun 1991, dalam rangka pameran KIAS (Kebudayaan Indonesia di AS). Ia pernah juga mendalang di Jepang, Spanyol, Jerman Barat (waktu itu), Australia, dan banyak negara lainnya. Khusus untuk menambah wasasan pedalangan me-ngenai dewa-dewa, Dr. Soedjarwo, Ketua Umum Sena Wangi, pernah mengirim Ki Anom Suroto ke India, Nepal, Thailand, Mesir, dan Yunani.

Di sela kesibukannya mendalang Anom Suroto juga menciptakan beberapa gending Jawa, di antaranya Mas Sopir, Berseri, Satria Bhayangkara, ABRI Rakyat Trus Manunggal, Nyengkuyung pembangunan, Nandur ngunduh, Salisir dll. Dalang yang rata-rata pentas 10 kali tiap bulan ini, juga menciptakan sanggit lakon sendiri antara lain Semar mbangun Kahyangan, Anoman Maneges, Wahyu Tejamaya, Wahyu Kembar dll.

Bagi Anom Suroto tiada kebahagiaan yang paling tinggi kecuali bisa membuat membuat senang penontonnya, menghibur rakyat banyak dan bisa melestarikan kesenian klasik.

Anom Suroto pernah mencoba merintis Koperasi Dalang ‘Amarta’ yang bergerak di bidang simpan pinjam dan penjualan alat perlengkapan pergelaran wayang. Selain itu, dalang yang telah menunaikan ibadah haji ini, menjadi pemrakarsa pendirian Yayasan Sesaji Dalang, yang salah satu tujuannya adalah membantu para seniman, khususnya yang berkaitan dengan pedalangan.

Dalam organisasi pedalangan, Anom Suroto menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat PEPADI, untuk periode 1996 - 2001.

Pada tahun 1993, dalam Angket Wayang yang diselenggarakan dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI-1993, Anom Suroto terpilih sebagai dalang kesayangan.

Anom Suroto yang pernah mendapat anugerah nama Lebdocarito dari Keraton Surakarta, pada  1997 diangkat sebagai Bupati Sepuh dengan nama baru Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Lebdonagoro.

Karena punya banyak penggemar, banyak pula pergelaran Anom Suroto yang direkam dan kemudian  dijual dalam bentuk kaset
Posted on 11.05 / 0 komentar / Read More
 
Copyright © 2011. wayang kulit . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Dalang . Published by Dalang